Hari-hari Terachir Aidit

IMG_0001

Buku ini kubeli dari toko online. Sempat tergeletak cukup lama di rak buku sebelum suatu hari diriku lagi-lagi kehabisan bacaan untuk menemani perjalananku ke kantor. Buku ukuran saku ini akhirnya menjadi pilihanku, dan tidak kusangka ternyata isinya cukup seru. Cukup untuk membuatku terjaga selama perjalanan. Ejaan yang agak sulit dicerna membuatku agak sulit memahami alurnya, sehingga butuh waktu agak lama untuk memahami sepenuhnya isi buku ini. Kadang-kadang satu kalimat harus kubaca berkali-kali untuk memahami maksud sebenarnya. Akhirnya buku ini pun tidak habis kubaca dalam perjalanan.  Aku melanjutkan membacanya ketika sedang mengawas mahasiswa-mahasiswaku yang tengah melaksanakan ujian tengah semester. Sesekali kualihkan mataku dari buku kepada mereka, meyakinkan diriku agar tidak ada seorangpun yang tengah berbuat curang.

“Hari2 Terachir Aidit” ditulis oleh Soebekti, diterbikan oleh B.P. Kedaulatan Rakjat tahun 1966. Waktu penerbitan yang tidak terlalu jauh dari terjadinya peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober) membuatnya cukup representatif untuk menjadi rujukan sejarah. Belum banyak  propaganda orde baru yang mempengaruhi buku ini. Sang penulis sendiri, Soebekti menurut biografi singkatnya adalah seorang Ketua Cabang PNI di Surakarta yang lama bergelut dalam profesi wartawan. Ia pernah ditawan Kempetai selama kekuasaan Jepang dan setahun lamanya ketika Belanda menduduki Surakarta. Ia pernah memimpin redaksi harian “Dwi Warna” dan menjadi pendiri Lembaga Kebudajaan Nasional.

Latar belakang  Soebekti sebagai wartawan memberikan gaya penulisan yang khas, seperti halnya laporan investigasi dalam sebuah koran. Tidak banyak emosi yang terlibat di dalamnya. Informasi diberikan apa adanya secara datar, tapi inilah yang membuatnya sangat berharga. Walau demikian, sumber materi Soebekti dalam menelusuri hari-hari terakhir Aidit ini bisa dipastikan didapat dari ABRI karena menggali informasi dari PKI atau Aidit sendiri tidak dimungkinkan. Aidit ditembak tanpa sempat mengungkapkan pembelaan atau pengakuan apapun.

Aidit adalah tokoh besar. Tidak akan terbayang zaman ini orang semacam Aidit di Indonesia. Ia adalah pemimpin Partai Komunis nomor tiga di seluruh dunia.  Menguasai massa komunis terbesar dalam negara non komunis, walau sebenarnya Njoto adalah otak di balik PKI.  Ketika itu, PKI  Indonesia lebih dekat kepada Peking dibandingkan Sovyet. Komunisme ala Mao Tse Tung yang berbasis petani lebih dianggap cocok untuk keadaan Indonesia dibandingkan  ala Lenin yang berbasis buruh.

Apa yang diungkap buku ini adalah apa yang banyak terlewat dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Bahwa peristiwa Gestok yang terjadi di Jakarta hanyalah satu rangkaian dari kudeta nasional yang dilakukan PKI. Pusat kegiatan kudeta ternyata dilakukan di Jawa Tengah, dengan Surakarta sebagai “Yenan”-nya Tiongkok.

Tidak ada kudeta yang berhasil tanpa dukungan militer. Oleh karena itu, keberhasilan kudeta Aidit sangat bergantung kepada peran infiltran PKI dalam tubuh ABRI.  Pada tanggal 1 Oktober dan seterusnya kegiatan PKI di Jawa Tengah dimaksudkan untuk  membentuk Dewan Revolusi dan menguasai pos-pos ABRI  serta persenjataan di seantero Jawa Tengah dengan poros Jogja-Solo. Kala itu Mayor Muljono dengan pasukannya berhasil menguasai Korem 72 di Jogjakarta dengan membunuh Dan Rem Katamso dan Kas Rem Letkol Sugijono. Mayat keduanya ditanam di belakang tangsi tentara di Kentungan. Nah, akhirnya aku mengetahui asal muasal penamaan jalan Katamso.

Banyak lagi pergerakan PKI di Jawa Tengah yang tidak bisa kusebutkan satu per satu.  Pastinya, keadaan Jawa Tengah khususnya Surakarta saat itu sangat panas.  Massa PKI (Batalyon K dan M) beserta Pemuda Rakyat  yang jumlahnya ribuan menyisir penjuru kota untuk memburu Massa Pancasilais dan Agamis yang menentang Dewan Revolusi. Rakyat  tidak diperkenankan mendengar siaran radio dari Jakarta, mereka hanya boleh menerima siaran dari Peking.

Tidak seperti yang dibayangkan setiap kali kita membaca buku pelajaran sejarah yang menyebutkan pemberantasan PKI langsung dilakukan setelah terjadinya peristiwa Gestok, kudeta yang terjadi di Jawa Tengah berlangsung setidaknya sebulan lamanya sepanjang bulan Oktober.  Tanggal 21 Oktober terjadi pemogokan-pemogokan di Stasiun Tjeper, Pabrik-pabrik gula Tjeper dan Gondangwinangun, serta pabrik karung Delanggu. Aksi-aksi itu dilakukan untuk mengantisipasi kedatangan RPKAD yang hendak membasmi gerakan PKI di sana. Selain itu seluruh jalur ke Surakarta dipenuhi blokade-blokade pohon-pohon yang ditumbangkan, balok-balok dan gundukan tanah. 5 Formasi kereta api disabotase di stasiun Balapan.

Pada tanggal 22 Oktober, demonstrasi-demonstrasi anti Gestok di Solo ditembaki massa Gestok dari arah Beteng di Gladag, sehingga 3 pemuda tewas dan 14 lainnya luka-luka. Pemuda-pemuda Nasionalis dan Agama lainnya dibantai oleh PKI di Bengawan Solo (Kedung Kopi). Jumlah pemuda yang gugur di sana tercatat 14 orang.  Totalnya ada 25 orang tewas dan 37 luka-luka akibat keganasan Gestok hari itu. Tanggal 26 Oktober Soeharto selaku tetua rumpun Diponegoro menyerukan pasukannya di Jawa Tengah untuk kembali ke jalan yang benar di bawah pimpinan Soekarno.

Sadar dan kembalilah kepada relnya revolusi yang diajarkan bung Karno kepada Amperamu… Tetapi kepada jang tetap membangkang dan nyata bersalah. Angkatan Bersenjata – anak rakyat – dan rakyat sendiri yang akan menghajarmu. Anak-anakku, anak-anak rakyat, kembalilah kepada revolusi rakyat di bawah pimpinan Bung Karno. Semoga Tuhan mengampuni yang khilaf dan memberkahi perjuangan kita.

Upaya Aidit untuk menguasai Surakarta sepanjang tanggal 21 s/d 24 Oktober tersebut berakhir dengan kegagalan, karena faktor berikut :

  1. Kegagalan menguasai senjata dari Dodik Wedi Klaten dan sumber lainnya sehingga 3 batalyon tempurnya kekurangan senjata
  2. Terlepasnya batalyon K, L, dan M dari tangan Aidit
  3. Tidak berjalannya prisip perang gerilya yang diidamkan Aidit di Boyolali dan Ampel
  4. Tangguhnya daya tempur RPKAD dan Brigif 4 yang didukung rakya

Intinya menurut Aidit, mengulang kesalahan dua pemberontakan PKI sebelumnya adalah

Kegagalah kudeta ini disebabkan karena masih terlampau pagi dilaksanakannya, sehingga saatnya sebenarnya belum matang. Selain kurangnya bantuan dari Tiongkok dan negara komunis internasional.

Lalu apa yang menyebabkan pelaksanaan kudeta yang terburu-buru ini ? Hal ini cukup rinci dibahas di bagian kedua buku “Hari2 Terachir Aidit”.  Dipa Nusantara Aidit yang menjelma sebagai anak emas Soekarno setelah “perceraiannya” dengan Hatta menyadari bahwa kesehatan Bung Karno yang memburuk menandai hari-hari akhir kekuasaanya. Tim dokter yang dibawa Aidit dari Tiongkok turut menguatkan pendapat Aidit tersebut. Desas desus yang dipercata Aidit menyebutkan bahwa apabila Presiden wafat, kekuasaan akan dilimpahkan kepada dewan jenderal yang dikenal anti komunis. Sehingga sewaktu-waktu bisa melibas PKI dan dirinya.

Menanggapi hal tersebut dilakukanlah sidang Comite Central PKI untuk mencegah kenaikan Dewan Jenderal.  Aidit mendorong dilakukannya tindakan untuk mendahului kudeta Dewan Jenderal. Untuk itu persiapan kudeta PKI yang sedianya dilakukan tahun 1970 dipercepat.  Usulan awalnya kudeta ini dilakukan tanggal 1 Mei 1965 namun ditentang Lukman, Njoto, Sakirman dan Njono yang menganggapnya terlalu dini.  Hubungan dengan infiltran di tubuh ABRI diintensifkan lewat tokoh Sjam dan Pono. Menurut PKI, apabila Soekarno menghalangi tindakan kudeta Dewan Jenderal tersebut, ia juga harus disingkirkan. Setelah diundur-undur akhirnya jadilah Aidit memutuskan tanggal 1 Oktober sebagai Hari-H pelaksanaan kudeta.

Keputusan diumumkan pada sidang lengkap pelaksana yang diadakan di Lubang Buaja pada tanggal 30 September 1965 pukul 10.00 pagi. Malamnya pukul 22.00 Aidit meninggalkan rumah Sjam untuk menuju Halim. Paginya tanggal 1 Oktober setelah terjadi pembantaian dibentuklah Dewan Revolusi yang dipimpin Bekas Letkol Untung dari Tjakrabirawa. Kekuatan Dewan Revolusi hanya bertahan selama 24 jam di Jakarta karena langsung dibasmi ABRI yang dipimpin Mayjen Soeharto. Aidit yang menyaksikan kegagalan tersebut langsung meninggalkan Jakarta menuju Jogja dengan menggunakan Hercules dari Halim Perdanakusuma.

Sesampainya di Jogjakarta, Aidit segera mengkonsolidasikan kekuatan PKI yang tersisa untuk “Membentuk Dewan Revolusi di daerah” dan mengganyang “setan-setan desa dan setan-setan kota”.

Djawa Tengah kita djadikan tindju kita. Kita didjadikan daerah bebas kita. Oleh karena itu musuk-musuh harus kita bersihkan.

Kegagalan operasi kudeta tanggal 26 Oktober memutuskan sama sekali hubungan Aidit dengan organ PKI. Aidit sendiri lebih banyak bersembunyi untuk menghindari penangkapan dari ABRI. Di sinilah dimulainya petualangan Aidit yang sangat seru sekaligus tragis.  Episode ini layaknya diangkat dalam sebuah film action.

Aidit berusaha meloloskan diri dari daerah Surakarta dan sebisa mungkin  berupaya kabur ke negara asing. Pertama-tama Aidit bersembunyi du rumah yang terletak di gang Sidaredja, Kampung Sambeng, Solo. Rumah yang sangat cocok untuk dijadikan persembunyian. Selain karena posisinya yang tersembunyi di tengah pemukiman kumuh, interior rumah juga dirancang sebagai tempat persembunyian. Ruangan tempat Aidit tinggal terletak di belakang dapur yang hanya bisa dimasuki dengan cara menggeser lemari yang berfungsi sebagai pintu.

IMG_0002

Setelah Solo dikuasai RPKAD, Aidit berkeliaran ke daerah Merapi-Merbabu. Berminggu-minggu lamanya Aidit bersembunyi di tengah hutan rimba. Sewaktu di Klaten, Aidit lolos dari penangkapan karena bersembunyi di bawah tempat penumbuk padi. Akhirnya pada bulan November,  Aidit kembali ke Solo dengan membonceng  Scooter. Menurut rencana, dengan dibantu kawan-kawannya, dari Solo Aidit akan melanjutkan perjalanan ke Purworejo, untuk kemudian mengendarai perahu kecil untuk sampai di sisi Samudera Hindia. Dari sini suatu saat Aidit akan dijemput oleh kapal selam dari negara asing.

Selama 18 hari lamanya Aidit bersembunyi di Solo, bolak balik antara dua persembunyiannya di Jl. Slamet Rijadi dan Sambeng. ABRI yang selama ini mengintai persembunyian Aidit dengan menyamar sebagai tukang es puter dan tukang becak akhirnya memastikan dan merencanakan untuk menyergap tanggal 21 November 1965. Penggerebekan yang dilakukan ABRI terhadap rumah Sambeng mengakhiri hidup Aidit untuk selama-lamanya. Aidit yang saat itu bersembunyi di dalam lemari langsung ditembak mati.  Sungguh disayangkan sekali karena Aidit tidak diberikan kesempatan untuk menghadap pengadilan.

Kematian Aidit menandai periode pembantaian besar-besaran terhadap anggota PKI dan “terduga PKI” lainnya. Bagi teman-teman yang sudah menonton film “The Act of Killing” , kekejaman tersebut akan lebih mudah untuk dibayangkan. Namun perlu dipertimbangkan bahwa kekejaman tersebut tidak berdiri sendiri. Penyerangan PKI terhadap jantung ABRI dan konfrontasinya dengan kaum Agama-lah yang menyebabkan pembantaian tak berperikemanusiaan tersebut. Seorang pemuka NU saat itu seperti pengakuan Hatta pernah menyebutkan akan membunuh 10 orang PKI untuk setiap pemuka Agama yang tewas di tangan PKI.  Angka tersebut memang terlalu naif. Siapa sangka nantinya akan ada ratusan ribu korban “pembasmian” PKI oleh ABRI  yang didukung massa Nas dan A (Nasionalis dan Agama).

IMG_0003

Published by

santijn

Seorang penggemar buku sejarah. Menulis blog hanya untuk menyalurkan apa yang telah dibaca. Pengurus dari Loge Sumur Bandung Bibliotheek.

26 thoughts on “Hari-hari Terachir Aidit”

  1. Koreksi : Aidit tidak ditembak langsung, tetapi sempat ditahan, diinterogasi, dan kemudian ditembak di perjalanan menuju Semarang (Boyolali ?? )

  2. setelah ditangkap aidit, dibawa petugas dan dieksekusi…dimasukan ke sbuah lobang kemudian dibakar(sy pnh baca di salah satu tabloid thn 80 an)

  3. trimah kasih sudah berbagi kutipan sejarah komunis nya bu dosen.saya juga suka sejarah dan mengumpulkan buku2 sejarah.saya juga punya pledoi beberapa tokoh p.k.i.dari arsip aslinya yg sy temukan dilapak rongsokan barang bekas.yg sy heran kok bs ya arsip rahasia negara dibuang.

    1. Sama-sama mas… Memang kebanyakan generasi sekarang kurang menghargai arsip-arsip sejarah, tidak seperti pendahulunya.. Tapi untungnya arsip tersebut kini tersimpan di orang yang menghargainya seperti anda..

  4. Aidit kabur dr halim dgn pesawat Dakota AURI bukan Hercules..utk ke jogja guna konsolidasi gerakan lanjutan kudeta dibasis utamanya-Jawa Tengah..postingan diatas menambah bukti secara tegas&jelas bahwa kudeta Gerakan 30 September memang dirancang PKI/aidit cs dgn tindakan awal melenyapkan pimpinan TNI-AD sbg rival utamanya..trims ibu atas infonya :)

  5. Yang sy ketahui saat itu pki ingin memfitnah para jenderal bahwa dewan jenderal yg sebenarnya adalah untuk pengaturan kepangkatan dikatakan sebagai kudeta. Shg saat 1 okt 65 dirancang dihadapkan presiden di halim (skenario penculikan 30 sept dan rencana kunjngan presiden 1 okt). Tp malang..rencana mereka kocar kacir ga padu sehingga diterjemahkan sebagai pembunuhan. Aidit tau terjadi kesalahan rencana. Shingga dewan revolusioner gagal..dan dia masih berharap membuat dewan revolusioner daerah khususnya basis jawa tengah dapat bekerja. So dia ke yogya sambung solo. Yg pasti dewan revolusioner jakarta saat itu mengira aidit merestui pelaksa kudeta yg kurang persiapan. Sementara aidit mengira pasukan yg pro pki memank sudah siap. Kesalahan komunikasi itu karena sam kamaruzaman tidak mengatakan kondisi yg sebenarnya baik kpada pasukan yang pro pki maupun kpd aidit sendiri. Sehingga sam pun jg lari krena tau dr tgl 30 sept usaha pki langsung gagal pada aksi pertama..bahwa terjadi pembunuhan..sehrusnya penculikan para jenderal dlm keadaan hidup.

  6. ibu dosen, sungguh buku ini sangat kami butuhkan demi menjawab segala bentuk pengelabuan sejarah. PKI sekarang berkata dan meniupkan isyu pada anak anak muda bahwa sesungguhnya G30Spki itu hanyalah propaganda pres soeharto untuk menjatuhkan pres soekarno…. namun masalahnya bukan itu bagi saya, PKI sudah membuat makar dan pembunuhan jauh di thn 1948, sampai tahun 1965, kalau di akumulasikan berapa jumlah total pembunuhan mereka terhadap santri dan yang mereka anggap menghalangi komunisme berdiri menggantikan pancasila. buku ini sangat pentingggg… mari kita cetak ulang…. perbanyak, kasihan generasi muda yang memang sedang berdarah muda di kelabui PKI gaya baru… bila ada benturan pastila mereka akan kena imbasnya juga… padahal mereka tidak mengerti. mohon bu dosen balas ke email saya. saat ini kembali seperti zaman 65 kata papa saya di mana musuh dan lawan amatlah samar. kakek kakek saya korban dari pembunuhan PKI, namun alhamdulillah mereka lolos dan selamat, sehingga setiap hari kami selalu diceritakan ke kejaman PKI yang anti Tuhan. dan tidak ada cerita pak Soeharto didalam kisah bapak dan kakek saya.

    1. Sejarah PKI sudah terbuka lebar, siapapun bisa mengaksesnya. Tapi terlalu berlebihan ketika kita menganggap PKI akan bangkit lagi. Dengan ketiadaan tokoh, basis ideologi, dan dukungan negara lain, sungguh tidak mungkin PKI akan bangkit lagi. Adapun mereka yang menggali paham marxis selama dalam tahap kewajaran atau hanya gaya2an saja tidak perlu ditakuti. Oh iya, Dalam sejarahnya, PKI tidak pernah berniat untuk mengganti Pancasila..

  7. Aidit: “Pancasila adalah alat pemersatu, jika sudah bersatu, maka tidak diperlukan lagi Pancasila”

    terima kasih atas postingannya, Bu. dari postingan ini saya jadi punya gambaran situasi Jawa Tengah pasca Gestapu. saya jadi bisa membayangkan betapa menakutkannya hari2 pada bulan Oktober ’65 itu. fakta yang saya sukai adalah info yang mengatakan PR memiliki senjata dan digunakan untuk menembaki demo anti “Gera’an 30 september”.

    data dari sini Insya Allah akan saya pakai untuk menyempurnakan script yang sedang saya buat. semoga nanti scriptnya menjadi lebih sempurna dan ideal hingga tidak kesulitan untuk mendapatkan investor agar bisa dieksekusi.

    Wassalam….

  8. Mohon info rumah di Sambeng, Solo itu persisnya dimana?
    Saya sedang menelusuri profil beliau dari tempat kelahirannya di Belitung. Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *