Imlek dan Kepercayaan Tionghoa

IMG_0007

Djoega dengen ini boekoe saja maoe kasih liat bagimana besar kakaliroeannja anggepan dari itoe orang-orang bodo jang bilang bangsa Tionghoa tida poenja agama dan tida mengenal Toehan.

Malam jumat yang lalu aku berkesempatan untuk mengunjungi perayaan tahun baru Imlek di Klenteng Satya Budhi Bandung.  Aku menikmati suasana langka ini, menyaksikan sahabat-sahabat kita bisa kembali melaksanakan salah satu tradisi nenek moyangnya yang dilarang semasa orde baru berkuasa.

Terus terang aku tidak mengerti alasan penguasa orde baru melarang pelaksanaan berbagai upacara atau tradisi kaum keturunan Tionghoa. Kaum yang memiliki ikatan sejarah cukup panjang dengan bangsa ini. Mereka yang telah menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Nusantara selama ratusan tahun tanpa pernah sekalipun melakukan agresi, berbeda dengan para pedagang dari Eropa yang tamak. Dan jangan lupa, penyebaran Islam di pulau Jawa tidak bisa dilepaskan dari beberapa tokoh asal negeri Tiongkok.

Begitulah sejarah dilupakan begitu saja. Pemerintah orde baru mengulangi kebijakan rasial yang pernah dipraktikan pemerintah kolonial terdahulu : menempatkan bangsa Tionghoa sebagai “kambing hitam” atas kemiskinan yang melanda bangsa Pribumi. Menempatkan mereka sebagai satu kelas masyarakat sendiri yang terpisah dari penduduk asli, sehingga keduanya akan saling mencurigai satu sama lain.

Keadaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu mulai berangsur membaik di era Reformasi ini, khususnya setelah Abdurrahman Wahid menjabat Presiden RI. Berkatnya kini kita bisa menyaksikan saudara-saudara kita beribadah dan merayakan hari-hari besarnya secara leluasa, di saat yang sama kita bisa menyaksikan kekayaan tradisi Tionghoa yang diperlihatkan setiap hari besar tersebut.

GEDSC DIGITAL CAMERA
Kelenteng Satya Budhi (Kwan Kong) Bandung dibangun tahun 1885

Mengenai asal muasal perayaan tradisi Imlek atau hari besar Tionghoa lainnya, Menurut Kwee Tek Hoaij, tidak terlepas dari latar belakang Bangsa Tionghoa yang mengenal tiga agama besar : Konfusianisme, Buddha, dan Taoisme. Dalam perkembangannya bangsa Tionghoa lebih banyak mencampur adukkan ketiga agama tersebut sehingga dalam praktek ttadisinya menjadi “kacau”. Dengan demikian akan sangat sulit untuk menelusuri asal muasal pelaksanaan suatu tradisi Tionghoa. Selain itu setelah sekian lama ini, golongan peranakan Tionghoa di Indonesia yang masih setia menjalankan tradisi atau kepercayaannya secara utuh memang terus menurun. Trend ini sudah terasa sejak Kwee Tek Hoaij menulis bukunya yang berjudul Agama Tionghoa (Drukkerij “Moestika”, 1937) sepertiga abad yang lalu.  Ia menyebutkan bahwa :

Di Java, lantaran pada tempo doeloe ampir samoea orang Tionghoa beristri dengen prampoean priboemi,  itoe kapertjajaan tjampoer adoek dari Tiongkok (Hokkian) telah bertambah lagi dengen kapertjajaan orang priboemi, jaitoe Djawa atawa Soenda, sedeng di Batavia, jang di djaman doeloe ada djadi poesatnja perdagangan boedak, jang sebagian besar beratsal dari Bali, orang Tionghoa ada banjak jang pake adat dan atoeran Bali Hindu.

Demikian keadaan sepertiga abad yang lalu, sekarang pun hampir sama. Pengaruh berbagai kebudayaan semakin banyak mewarnai pelaksanaan adat atau kepercayaan golongan Tionghoa peranakan. Sebagai contoh, Rasanya semakin jarang aku menemukan anak-anak muda Tionghoa yang mendatangi Kelenteng di malam imlek beberapa waktu yang lalu. Beberapa yang datang pun mungkin tidak mengerti banyak mengenai tradisi yang mereka jalani itu. Tampaknya mereka harus membaca lebih banyak buku-buku sastra dan sejarah Tionghoa khususnya karya-karya Kwee Tek Hoaij, seperti salah satunya buku Agama Tionghoa ini.

Buku Agama Tionghoa seperti disebutkan dalam buku “100 tahun Kwee Tek Hoay” (Myra Sidharta, Sinar Harapan  – 1989)  memuat 18 artikel kecil yang diterbitkan secara bersambung dalam 26 nomor pertama majalah Moestika Dharma tahun 1931-1934. Yang dibicarakan adalah kepercayaan dan adat istiadat Tionghoa kuno, terutama hari-hari besar menurut kalender Tionghoa tradisional Im Lek berikut segala macam perayaan, doengeng, dan upacara yang sering bersifat gaib dan aneh. Buku ini merupakan salah satu dari puluhan karya Kwee Tek Hoaij lainnya (untuk selanjutnya penyebutan Kwee Tek Hoaij akan disingkat KTH).

Berbeda dengan saat ini dimana kalimat “Gong Xi Fat Chai” lebih banyak mewarnai perayaan imlek, ketika buku ini ditulis sambutan Imlek yang lebih umum adalah “Hoo Sin Cun” atau “Sin Cun Kiong Hie” yang artinya kurang lebih “Selamat Tahun Baru”. “Tapi itu perkataan “Sin Cun” sebetulnya bukan dimaksudkan “Tahun baru”, hanya “Musim semi yang baru””, tambah KTH. Ini karena agama Tionghoa pada dasarnya memuja alam dan musim semi dianggap sebagai musim yang memberi kebahagiaan, dengan demikian kedatangan musim semi dianggap sebagai munculnya dunia baru lagi. KTH membandingkan perayaan ini dengan perayaan serupa yang dilakukan bangsa barat dahulu pada tanggal-tanggal yang beragam, sebagian merayakan tanggal 1 Januari, lainnya tanggal 25 Desember. Akibat perbedaan dasar penanggalan antara dua peradaban tersebut (Bangsa Tionghoa mendasarkan peredaran bulan sedangkan bangsa barat pada Matahari), hari pertama musim semi atau tahun baru Tionghoa selalu jatuh di antara tanggal 21 Januari sampai 19 Februari.

Berdasarkan tradisi, bangsa Tionghoa sangat menghargai tanggal 1 (Ce It) dan 15 (Cap Gouw) setiap bulannya, sehingga dahulu setiap kedatangan tanggal tersebut selalu disambut dengan meliburkan usaha atau melakukan sembahyang. Ini dilakukan karena dipercaya bahwa pada setiap jatuhnya tanggal muda (Ce It) tersebut, kekuatan pengaruh alam astral yang rendah akan mendesak ke dalam otak manusia “yang waktu bulan muda lebih gampang kena pengaruh segala sifat yang kurang baik”. Sehingga pada tanggal tersebut disarankan untuk melakukan sembahyang untuk mengusir pengaruh buruk tersebut. Sebaliknya, setiap tanggal 15 (Cap Gouw), ketika rembulan menyala penuh atau purnama, kekuatan baik alam tengah mencapai puncaknya sehingga bisa mencerahkan jiwa atau semangat. “Inilah sebabnya maka malam Cap Gouw atau tanggal 15 dianggap baik untuk  melakukan pemujaan, sembahyang, dan pekerjaan suci lainnya, karena manusia bisa ambil keuntungan sepenuhnya dari pengaruh baik itu…” tambah KTH. Inilah sebabnya juga, perayaan tahun baru Imlek selalu disertai dengan perayaan meriah yang dilakukan setiap tanggal 15-nya.

GEDSC DIGITAL CAMERA
Jemaah Klenteng tengah beribadah

Kwee Tek Hoaij beserta kontributor tulisan lainnya dalam buku ini banyak mengangkat kebiasaan-kebiasaan Imlek yang sudah jarang lagi dilaksanakan.

Antara Tionghoa peranakan di Indonesia, apalagi jang terpeladjar Barat, itoe Sijmbool-sijmbool kabanjakan telah ilang artiannja, dan lantaran tida taoe maksoednja, lantes dianggep nonsens dan disingkirkan.

Kebiasaan-kebiasaan itu di antaranya adalah membersihkan rumah dan memasang kertas-kertas berisikan kata-kata berbahasa Tionghoa yang disebut Moei Lian di atas pintu atau jendela rumah. Umumnya kalimat yang dicantumkan adalah “Mudah-mudahan lima berkah dari Allah nanti turun di atas pintu ini”. Lima berkah yang dimaksud adalah panjang umur, kekayaan, kesentosaan, kecintaan dan ajal yang beruntung.

Tradisi lainnya adalah tidak tidur pada malam tahun baru. Ini dilakukan karena dahulu orang biasa pergi berkunjung atau menerima tamu di waktu masih gelap, antara jam 3 dan 4 pagi. Tamu yang berkunjung biasanya disajukan manisan dan buah jeruk. Manisan sebagai simbol agar sang tamu merasakan “manisnya” penghidupan dan terbebas dari rasa pahit dan getir, sedangkan buah jeruk merupakan simbol umur panjang. Pada hari tahun baru itu juga dilarang untuk membersihkan rumah karena dianggap “membuang rejeki”.

Satu lagi tradisi yang melekat pada perayaan Imlek adalah membakar petasan. Tradisi inilah yang nantinya menular ke umat Islam sehingga dahulu tidak lengkap rasanya merayakan Lebaran tanpa menyalakan petasan. Untungnya tradisi ini sudah jarang dilakukan di Bandung karena satu dan lain hal. Pada malam imlek yang lalu aku hanya sedikit sekali mendengar suara ledakan petasan atau kembang api. Berdasarkan kepercayaan Tionghoa membakar petasan adalah simbol mengusir setan atau menarik perhatian malaikat-malaikat yang disembahyangkan. Untuk itu ada suatu kisah menarik.

Konon di pegunungan Tiongkok sebelah barat tinggal suatu mahkluk yang tingginya tidak lebih dari satu kaki (1/3 meter) dan biasa bergelandangan dengan telanjang untuk menangkap kepiting atau udang. San Sao namanya. Malam harinya mereka sering mendatangi kediaman penduduk yang sudah tertidur untuk sekadar membakar kepiting atau udang miliknya. Mahkluk cebol ini hanya bisa diusir lewat sebuah ledakan keras, karena kalau diserang mereka bisa menyebabkan demam.

IMG
Perayaan Imlek di Rembang (1955)

***

Demikianlah sedikit ulasan mengenai Imlek dari buku “Agama Tionghoa” karya sastrawan Tionghoa paling legendaris di Indonesia. Inti dari seluruh tulisan dalam buku ini adalah penekanan untuk menyelidiki dan menjelaskan segenap adat kebiasaan Tionghoa agar dapat dihormati dengan semestinya. Kwee Tek Hoaij mengharapkan agar tradisi-tradisi Tionghoa kuno tetap dilaksanakan disertai dengan pemahaman agar bisa bertahan sepanjang jaman. Aku pun berpendapat sama. Andai anak-anak muda keturunan Tionghoa yang saat ini masih setia melaksanakan kebiasaan leluhurnya mengetahui maksud dan latar belakang kebiasaan-kebiasaanya tersebut, tentunya akan semakin banyak makna yang akan bisa didapat darinya. Walau demikian Kwee Tek Hoaij mengakui bahwa ada sebagian kebiasaan yang tidak lagi sesuai dengan konteks kekinian.

“Sikepnja golongan jang hendak singkirken segala atoeran dan oepatjara koeno, tida bisa disalahkan, kerna memang djoega dalem atoeran agama Tionghoa ada banjak jang bersifat tachajoel, bodo, atawa menjasar, serta bertentangan dengan agama dan priboedi. Tapi sebagi djoega semoea sifat dalem doenia jang selaloe bertjampoeran antara baek dan djahat, bersih dan kotor, atawa terang dan gelap, demikian poen itoe atoeran dan oepatjara agama dari bangsa Tionghoa, jang ada tjampoeran dari Confucianisme, Buddhisme, dan Taoisme, maski sabagian soeda tida tjotjok lagi boeat ini djeman, ada mempoenjai djoega banjak sifat-sifat baek jang, kaloe sadja didjalankan dengen betoel, bisa datangken kefaedahan bagi manoesia…” (Moestika Dharma I, 1932)

GEDSC DIGITAL CAMERA
Patung Kwam Kong

Published by

santijn

Seorang penggemar buku sejarah. Menulis blog hanya untuk menyalurkan apa yang telah dibaca. Pengurus dari Loge Sumur Bandung Bibliotheek.

2 thoughts on “Imlek dan Kepercayaan Tionghoa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *