Buruh Kereta Api itu Diasingkan di Digul

IMG_20160419_0001

Artinya, di Digul banyak yang jadi gila. Ada seorang, yang kebetulan adik seorang tokoh pergerakan nasional terkenal, yang kalau ketemu siapa saja, lelaki atau perempuan akan diciumnya. Ada lagi orang yang tiba-tiba saja akan berpidato. Tidak peduli apakah ada yang mendengar atau tidak.

Tujuan pengetahuan sejarah adalah untuk menjadikan kita makin bijaksana. Walaupun memang, tidak pernah ada jaminan bahwa mereka yang mengetahui sejarah akan menjadi seorang manusia lebih bijaksana dibanding lainnya, maupun sebaliknya. Banyak kita saksikan tokoh-tokoh yang buta sejarah yang jelas kebijaksanaan dan sumbangsihnya pada masyarakat. Begitu pula sebaliknya, ada orang-orang yang pengetahuan sejarahnya tidak diragukan lagi, tapi pengetahuan itu menjadikan mereka sebagai orang-orang culas. Mereka menggunakan pengetahuan sejarahnya untuk mengadu domba masyarakat misalnya. Tanpa disadari, Tindakan yang jauh dari hakikat pengetahuan sejarah itu malah menghasilkan kekacauan.

Sungguh menyedihkan memang, ketika melihat segelintir “sejarawan” sibuk meributkan hal-hal yang kontra produktif bagi masyarakat. Biasanya mereka melakukan hal itu guna kepentingan politik atau ekonomi semata. Tidak jarang mereka menjadi corong bagi kepentingan golongan tertentu yang tidak suka atas perubahan positif di negeri ini. Kini dengan mudahnya orang-orang itu berusaha memecah belah bangsa untuk kepentingan tertentu. Kita patut waspada terhadap tindakan itu, karena sejarah membuktikan bahwa fase “pemecahbelahan” selalu mengawali dan menyuburkan keberadaan penjajahan.

Salah satu praktik pemecahbelahan itu dilakukan di tempat interniran Digul yang terkenal, dimana mereka yang dianggap “memberontak” dibuang oleh pemerintah kolonial ke sana. Di Digul, kaum interniran terbagi atas beberapa kelompok. Pertama adalah mereka yang secara sukarela bekerja pada pemerintah dan menerima gaji, kedua mereka yang tidak mau bekerja dan hanya mau menerima bantuan dari pemerintah (sehari-harinya berdagang / menjadi nelayan), Ketiga mereka yang tidak dapat bekerja karena cacat (mendapat tunjangan dari pemerintah), dan Keempat adalah mereka yang tidak mau bekerja pada pemerintah. Ketiga golongan pertama dijanjikan pengampuan dan akan dipulangkan setelah beberapa waktu. Salah seorang Digulis (mantan interniran Digul), Jusuf Mewengkang mengomentari keadaan itu sebagai berikut :

…”Politik madu” yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap orang-orang buangan di Boven Digul, berhasil memecah belah kesatuan dan persatuan orang-orang buangan. Perpecahan ini menyebabkan timbulnya perkelahian di sana-sini antara sesama orang buangan…

Persatuan bangsa memang menjadi momok yang mengerikan bagi penjajah. Oleh karena itulah mereka sebisa mungkin mencegah terjadinya hal itu dengan segala cara, termasuk dengan propaganda dan kekerasan. Pada masa-masa awal pergerakan, memang terdapat banyak faksi perjuangan berdasarkan karakter dan ideologinya masing-masing. Ada yang berlandaskan nasionalisme, Islam, komunisme, dan sebagainya. Namun tujuan pergerakan nasional itu adalah satu, yaitu kemerdekaan Indonesia. Itulah salah satu ciri khas dari para “Perintis Kemerdekaan Indonesia”.

Pembahasan lebih lanjut mengenai para perintis kemerdekaan Indonesia diungkap dalam majalah “Prisma” No.7 Tahun 1988. Di sana disebutkan bahwa :

Mereka yang dikenal sebagai “Perintis Kemerdekaan Indonesia” adalah orang-orang yang terlibat dalam pergerakan anti-kolonial di Indonesia antara periode kebangkitan nasional hingga 1945. Kurun waktu yang panjang tersebut tentunya menandakan bahwa aktor-aktor yang berperan, besar maupun kecil, dalam berbagai episode dari cerita panjang pergerakan nasional kita, sekarang mendapatkan kehormatan untuk disebut sebagai “Perintis Kemerdekaan”.

Penjelasan di atas secara tersirat menunjukan bahwa istilah “Perintis Kemerdekaan Indonesia” tidak bisa dialamatkan pada segelintir tokoh-tokoh, melainkan sebagai suatu kumpulan tokoh-tokoh, di luar segala latar belakang dan besar kecil peranannya, yang ikut terlibat dalam upaya kemerdekaan. Hal ini tentunya juga untuk menghindari perdebatan “peran siapa yang lebih penting” dalam upaya perjuangan bangsa.

Dengan mengacu pada definisi yang sama, Majalah “Prisma” edisi “Siapa Perintis Kemerdekaan?” memuat beberapa tulisan yang terhubung dengan benang merah yang sama. Di antaranya membicarakan : Pemberontakan Anak Buah Kapal Zeven Provincien tahun 1933, Nasib para Digulis, Soetomo dan Budi Utomo, dan lain-lainnya. Dari seluruh tulisan itu, pengalaman seorang Digulis, Suwignyo, adalah yang paling menyita perhatianku. Beliau bukanlah orang “penting” dalam ukuran sejarah perjuangan bangsa. Beliau hanyalah seorang buruh kereta api biasa yang mendukung kemerdekaan Republik dan ikut merasakan penderitaan represi pemerintahan kolonial. Tanpa satu orang Suwignyo mungkin Republik ini tetap berdiri. Namun satu hal yang pasti, beliau telah mencatatkan dirinya sebagai bagian yang tidak terlepaskan dari proses perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau telah memberi makna pada hidupnya. Berikut kisah hidupnya…

IMG_20160419_0002
Suwignyo

Buruh Kereta Api : Perintis Kemerdekaan

Oleh : Suwignyo, Perintis Kemerdekaan

Pada 1923 saya berhenti dari sekolah dan mulai bekerja pada perusahaan kereta api SCP (Semarang-Cirebon Spoor Maatschappij). Sebelumnya, saya bersekolah di Princes Juliana Middleschbaar School, Yogyakarta. Sejak 1924 saya mulai mendengar dari aktivis-aktivis politik setempat tentang masalah politik, kolonialisme dan imperialisme. Pada saat itu, banyak kawan saya yang juga mulai tertarik dengan masalah seperti itu.

Suatu ketika, oleh seorang tokoh serikat buruh kereta api, saya diberi buku Tan Malaka, Sovyet dan Parlemen yang membuat saya mengerti tentang kedudukan bangsa kita yang dijajah.

Pada suatu saat saya dipindahkan ke stasiun kereta api di Comal, Pemalang, Jawa Tengah. Di situ saya menjadi anggota serikat buruh kereta api. Pada 1926 saya mendengar kabar dari seorang kawan bahwa akan ada pemberontakan yang dimulai di Menes, Banten, pada 12 November 1926. Menurut kabar itu, pemberontakan diorganisasikan oleh seorang mahasiswa kedokteran bernama Dahlan. Bersama orang-orang lain, saya disuruh bersiap-siap untuk menyambut pemberontakan tersebut.

Tetapi ketika saya tanyakan kepada kawan itu beberapa hal tentang situasi dan kondisi internal serta internasional yang dapat menunjang keberhasilan pemberontakan tersebut, pertanyaan saya tidak dijawab. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa pemberontakan yang direncanakan akan gagal. Jadi saya urung ikut dalam pemberontakan tersebut. Dugaan saya terbukti benar, Pemberontakan itu ditumpas, sebab tidak terorganisir.

IMG_20160419_0006
Tan Malaka muda
IMG_20160419_0003
Berita Pemberontakan PKI tahun 1926

Diadili Belanda

Sebagai anggota serikat buruh kereta api, saya ditangkap dan disidangkan oleh pengadilan kolonial, meskipun saya tidak terlibat dalam pemberontakan tersebut. Sidang diketuai oleh seorang Belanda Totok bernama Verhoeven, sedangkan penuntut umumnya bernama Karya Atmaja. Padahal, waktu itu tidak ada bukti tentang keterlibatan saya. Pak Karya mengatakan kepada saya, “Wignyo, kalau kau nanti ditanya oleh tuan besar ketua sidang, kamu harus menjawab dengan ngoko (halus)”. Saya menjawab,”Tuan Jaksa, sepuluh tahun saya belajar bahasa Belanda, maka saya tidak akan berbicara padanya dengan ngoko”. Tetapi Verhoeven nyeletuk dalam bahasa Belanda, “Tuang Wignyo, kamu dapat berbicara pada saya dalam bahasa Belanda” Sidang itu memutuskan bahwa saya harus dihukum empat tahun.

Saya dipenjarakan di Glodok, yang pada waktu itu lebih merupakan sebuah tempat penampungan yang memuat ribuan tahanan dari seluruh Indonesia. Selama dua tahun di sana saya diperlakukan dengan kejam. Karena tidak tahan, seorang kawan saya ingin melarikan diri dari penjara melalui saluran air. Tetapi ketika keluar dari saluran air itu, kebetulan air sedang pasang, sehingga dia mati tenggelam.

Setelah dua tahun, saya dipindahkan ke penjara Pamekasan, Madura. Perpindahan ke penjara itu pun sengsara sekali. Secara tiba-tiba, jam dua malam kami dibangunkan, disuruh makan dan mandi. Karena saya tidak biasa makan di tengah malam, saya tidak mau makan. Kemudian, tiap lima orang tahanan dirantai bersama dan dihubungkan dengan tali dengan lima orang di belakangnya yang juga dirantai bersama. Demikian seterusnya hingga lima orang terakhir. Setelah itu dengan truk kami diangkut ke Tanjugn Priok. Di Tanjung Priok ada pengumuman bahwa siapa saja yang berani melepaskan rantainya akan ditembak mati.

Kira-kira saat fajar menyingsing, kami yang berjumlah 500 orang dinaikkan ke sebuah kapal pantai. Bertumpuklah kami bagaikan ikan sardin. Di atas kapal itu, kebetulan makanannya enak dibandingkan makanan di penjara. Tanpa memikirkan akibatnya, kawan-kawan saya memakannya dengan lahap, tetapi saya tetap tidak mau makan dan minum.

Karena makan banyak, saat kami sampai dekat Semarang, banyak kawan-kawan yang mau buang air. Kalau ada seorang yang mau buang air, maka kawan-kawan yang dirantai dengannya terpaksa ikut. Akhirnya semua orang di geladak tak mampu menahan hasrat untuk buang air – ada yang buang air kecil ada yang buang air besar. Bau kapal itu menjadi bukan main. Dalam keadaan seperti itu, di atas kapal tiga hari dan tiga malam, saya tidak mau makan.

Turun di Tanjung Perak, kami dinaikkan dalam sebuah sekoci untuk diangkut ke Kamal, Madura. Di sana sudah disediakan gerbong-gerbong kereta api untuk membawa kami ke Pamekasan, yang masing-masing diisi 50 orang. Pada waktu itu ada pengumuman bahwa siapa saja yang buang air besar dan kecil di dalam gerbong akan ditembak.

Di dalam gerbong, saya melihat seorang kakek di sebelah saya sedang meringis. Ternyata dia tidak bisa menahan hasratnya untuk buang air besar. Saya menyuruh dia untuk memakai tutup kepalanya sebagai penadah, meskipun dengan resiko kita bisa ditembak.

Celakanya, orang-orang lain di gerbong kemudian melakukan hal yang sama. Tutup kepalanya dipakai untuk membungkus kotorannya. Lebih celaka lagi, waktu itu angin berhembus. Akibatnya, angin yang tak peduli resiko itu, membawa bau dari dalam gerbong kami sampai ke gerbong tentara. Untung tidak ada yang jadi ditembak. Kalau diceritakan sekarang, timbul rasa geli, tetapi waktu itu keadaan kami sangat menyedihkan.

Siksaan di Penjara

Di penjara Pamekasan, kami mendapat makanan yang buruk sekali. Sebagai protes, saya bersama empat orang lainnya menolak makanan itu. Memang setelah itu ada perbaikan, tetapi akibatnya, saya dan teman-teman dihukum karena dianggap menghasut. Kami berlima lantas dipisah ke dalam sebuah sel. Hukuman yang akan diberikan adalah pencambukan dengan rotan. Kami berlima bermufakat bahwa siapa saja yang lebih dulu dipilih untuk dicambuk, setelah menjalani hukumannya harus menghadap tuan direktur penjara, bernama Meineke, seorang Yahudi, dan mengatakan, “Terima kasih, Pak”. Hal ini tidak lain dimaksudkan untuk memberi semangat kepada rekan yang kena giliran berikutnya. Hukuman rotan bisa disaksikan bersama-sama. Orang yang pertama dicambuk tidak sempat melakukan kesepakatan itu karena tidak tahan. Saya mendapat giliran kedua.

Suatu kali, sang algojo, bernama Hansen, menghajar punggung saya. Dengan marah, saya berteriak dalam bahasa Belanda, “Pukul yang benar, bajingan”. Mendengar itu, para pejabat penjara menjadi berang, dan menyuruh Hansen untuk mencambuk saya lebih keras. Setelah dua puluh kali dirotan, baru saya dilepaskan. Badan terasa berat sekali, dan panas bukan main, jadi saya tidak bisa berdiri. Dengan membungkuk, saya menghampiri Meineke, sang direktur penjara. Saya berikan hormat, dan mengatakan kepadanya, “Terima kasih, Pak.” Dia bertambah marah. Saya bukannya dikembalikan di sel, tetapi dimasukkan ke kamar gelap. Dua minggu saya ditahan di kamar gelap. Orang yang sebulan di kamar gelap matanya bisa menjadi lamur atau buta sama sekali. Saya tidak tahu apakah karena pengaruh itu, sekarang mata saya yang kiri buta sama sekali…

“Didigulkan”

Pada 1930 hukuman saya di Pamekasan selesai, tetapi kemudian saya malah akan dibuang ke Boven Digul. Dari Pamekasan saya dibawa ke Surabaya untuk menunggu kalap dan orang-orang lain yang akan dibawa ke Digul juga. Enam bulan saya berada di Surabaya.

Waktu sampai di Digul, sudah ada banyak tahanan di sana. Di tempat itu, ada kamp yang khusus buat pejabat, kamp buat tentara, dan kamp buat tahanan. Kedatangan kami disambut oleh orang yang namanya Soeprapto. Dia itu dulunya ketua PKI di Tegal. Saya heran, orang seperti dia, yang dulu begitu keras terhadap Belanda, kemudian malah menjabat sebagai petugas keamanan di Digul.

Di Digul saya termasuk golongan werkwillig atau pekerja, karena saya berprinsip bahwa dalam hidup ini kita harus bekerja. Mulanya saya bekerja sebagai tukang di rumah sakit setempat, tetapi kemudian saya dipindahkan ke bagian administrasi. Kepala administrasinya adalah bekas wedana di Menes, yang dibuang pemerintah kolonial, karena sewaktu ada pemberontakan dia malah bersembunyi.

Orang-orang di Digul datang dari berbagai tempat. Ada yang datang dari Sumatera, Jawa, ada yang dari Partai Sarekat Islam Indonesia, kelompok Islam lainnya, Sarekat Rakyat, serta orang-orang yang difitnah sebagai komunis karena mereka membangkang pada lurah, pangreh praja, atau pemerintah kolonial. Ada juga orang-orang PKI. Orang-orang ini semuanya dibuang karena dituduh terlibat dalam pemberontakan 1926. Asal-usul mereka macam-macam.

Baru sekitar 1935 orang-orang dari Partai Nasional Indonesia dibuang ke Digul. Termasuk di sini adalah orang-orang seperti Hatta, Sjahrir, Mewengkang, Moerwoto, dan lainnya. Tetapi Hatta dan Sjahrir tidak lama di Digul karena dipindah lagi ke Banda Neira.

IMG_20160419_0004
Pembukaan Lahan Tanah Merah di Digul

Siksaan Mental

Orang yang tidak tahan di Digul, ada yang berusaha melarikan diri. Yang dituju mereka adalah Thursday Island, milik Australia. Tapi yang berhasil mencapai pulau itu selalu dikembalikan kepada pihak Belanda. Intinya tidak ada usaha melarikan diri yang berhasil dari Digul.

Musuh utama kita di Digul adalah penyakit Malaria, apalagi malaria tropika yang mempengaruhi saraf. Kalau kena penyakit ini, kita bisa lumpuh. Kalau kena yang namanya malaria hitam, air seni kita menjadi kental. Kalau air seni itu maish seperti teh kental saja, kita masih bisa ditolong dengan minum air garam satu liter (kalau kehabisan kina). Tetapi, siapapun yang terkena penyakit itu, baik lelaki maupun wanita, setelah sembuh akan mandul. Sedangkan, jika air seni itu sudah seperti kopi kental, maka tidak ada harapan kita bisa ditolong lagi… Selain Malaria, penyakit lain yang mengancam adalah penyakit saraf.

Artinya, di Digul banyak yang jadi gila. Ada seorang, yang kebetulan adik seorang tokoh pergerakan nasional terkenal, yang kalau ketemu siapa saja, lelaki atau perempuan akan diciumnya. Ada lagi orang yang tiba-tiba saja akan berpidato. Tidak peduli apakah ada yang mendengar atau tidak.

IMG_20160419_0005
Para Opsir di Digul

Pemerintah Kolonial Tidak Mampu Membiayai Digul.

Ketika terjadi resesi tahun 1930-an, pemerintah kolonial makin berat membiayai Digul. Sebuah komisi, dipimpin Mr. Hillen melaporkan kepada pemerintah agar menutup saja Digul. Berkat laporannya, Pemerintah Kolonial mulai memulangkan sebagian tahanan Digul. Termasuk saya pada tahun 1934. Jadi tidak benar kalau ada orang Digul yang dipulangkan karena meminta ampunan.

Setelah pulang ke Jawa, sampai tahun 1945 saya tidak aktif dalam piolitik. Waktu itu saya memang menuruti keinginan orang tua untuk menikah. Tetapi perkembangan pada 1945 membuat saya tidak betah untuk tinggal diam. Namun, kegiatan saya dalam masa revolusi nasional itu merupakan suatu bab panjang tersendiri dalam riwayat perjuangan saya.

Published by

santijn

Seorang penggemar buku sejarah. Menulis blog hanya untuk menyalurkan apa yang telah dibaca. Pengurus dari Loge Sumur Bandung Bibliotheek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *