Perempuan dalam Theosofi

IMG_20160420_0001

Mempelajari suatu pelajaran dan pengetahuan itu adalah satu jalan (het pad) untuk menuju pada tempat atau azas yang menjadi kewajiban kita selama hidup di dunia ini, sebab hanya dengan pengetahuan yang sebagai penerangan (het licht) itu sajalah kita dapat mencapai maksud yang luhur itu dengan selayaknya.

Tepat tanggal 21 April ketika aku membuat tulisan ini. Tidak ada yang spesial hari ini, kecuali bersliwerannya postingan-postingan tentang Kartini di media sosial. Setelah pukul 24.00 terlewati, semuanya akan kembali kepada rutinitas biasa. Mereka yang memposting puja-puji terhadap Kartini, akan kembali mengumbar selfie-nya, curhatan kegalauannya, dan lainnya seperti biasa.

Sudah hal yang mahfum bagi masyarakat kita untuk memuja segala yang berbau kontemporer. Hidup untuk saat ini, tidak perlu memikirkan masa lalu, apalagi masa depan. Itulah sebabnya kedalaman atau esensi menjadi suatu hal yang tidak terlalu penting. Buang-buang waktu saja memikirkan esensi. Buat apa memikirkan pemikiran dan pergulatan batin Kartini, mari menghormatinya hanya dengan mengenakan kebaya. Buat apa membaca karya tulis Kartini, mari kutip saja ucapannya yang sering muncul di internet. Oh bukan itu saja, sepertinya tidak lengkap memperingati hari Kartini dengan memunculkan debat sejarah “Mengapa Kartini diperingati sedangkan wanita pejuang lainnya tidak ? Ini pasti suatu konspirasi…” Begitulah nasib bangsa ini. Kita sibuk meributkan kulit, tanpa pernah memikirkan isi. Tidak aneh apabila begitu sulit mengangkat derajat bangsa ini dari keterpurukan. Kita memiliki terlalu banyak waktu untuk berfikir negatif alih-alih positif…

Untuk mengetahui esensi perjuangan Kartini, kurasa sudah banyak yang membahasnya, namun aku merasa sangat perlu untuk mengangkat tulisan berikut karena sudut pandangnya yang menarik. Tulisan berikut berjudul “Perempuan dalam Theosofi”, dimuat dalam majalah Koemandang Theosofie bulan April 1937. Sang penulis yang namanya tidak tercantum, berusaha mengangkat kesamaan ide perjuangan Kartini dengan konsep pemikiran gerakan Theosofi. Gerakan Theosofi sendiri dalam sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari peran dua wanita “perkasa” : Madame Blavatsky dan Annie Besant. Terlepas dari pro kontra terhadap ketokohan mereka, gerakan Theosofi terbukti menjadi penggerak kebangkitan rakyat India melawan Kolonialisme. Walaupun gaungnya tidak terlalu besar di Nusantara, gerakan Theosofi tidak bisa dipungkiri mewarnai suasana pergerakan pada masa kolonial. Pengakuan sosok Kartini sebagai salah satu inspirasi dalam gerakan Theosofi dalam hal ini merupakan hal menarik. Berikut adalah kutipan lengkapnya, dengan ejaan yang telah disesuaikan.

IMG_20160420_0002

Perempuan dalam Theosofi

Door Duisternis Tot Licht
Door nacht tot licht,
Door storm tot rust,
Door strijd tot eer,
Door leed tot lust.
– Kartini –

Tanggal 21 April adalah hari kelahirannya almarhum Raden Ajeng Kartini, seorang putri Indonesia yang termahsyur di seluruh dunia, terutama kita bangsa Indonesia, karena cita-citanya yang sangat luhur dan mulia terhadap pada derajatnya bangsa kita Indonesia, terutama kaum putri. Bukunya yang beralamat “Door duisternis tot Licht” yang isi cita-citanya beliau itu telah tersiar di seluruh dunia dalam beberapa bahasa. Pun juga beberapa cita-citanya itu telah banyak yang berbuah. Dari itu maka sudah selayaknya, yang hari 21 April itu pada tiap-tiap tahun diperingati dan dirayakan oleh beberapa perhimpunan Indonesia, terutama perhimpunannya kaum putri dan pemuda (jeugd).

Buat perhimpunan kita Theosofi agak berlainan dengan beberapa perhimpunan yang biasanya memperingati dan menghormati hari 21 April itu. Tetapi hanya dilahirnya saja, sebab kalau ditilik yang sedalamnya tiada perbedaan antara  azas dan maksudnya pergerakan kita Theosofi itu dengan apa yang dicita-citakan oleh almarhum Raden Ajeng Kartini itu, malah sama menuju pada SATU maksud, ialah menjunjung tinggi derajat kemanusiaan kita dengan jalan membangunkan perasaan baru yang ini terdapat dalam mempelajari pengetahuan.

Dari itu mka untuk turut menghormati dan memperingati hari Kartini itu kami redaksi Kumandang Theosofi sengaja memuat tulisan ini, akan mencari rapatnya perhubungan dan persatuan antara cita-citanya yang mulia itu dengan azas maksudnya Theosofi.

Dalam beberapa macam pengetahuan dan pelajaran, baik yang berdasarkan agama maupun yang tidak keluar dari agama, telah dinyatakan bahwa menuntut atau mencari pengetahuan dan pelajaran itu ada diwajibkan kepada kita manusia. Jadi mencari pengetahuan atau mempelajarinya itu bukan hanya baik saja, etapi malah diwajibkan.

Meskipun pelajaran atau pengetahuan itu banyak dan bermacam-macam, yang kalau kita bagi menjadi dua yang pokok adalah kelahiran dan kebatinan, tetapi dalam hakekatnya adalah satu yang menjadi pokoknya maksud, ialah menuju atau mengharap pada ketentraman dan keselamatan.

Dalam praktiknya orang yang selalu membesar-besarkan rasa kemurkaan, untuk menguntungkan pada dirinya sendiri, dengan tidak mengingat pada orang lain, itu dikatakan tak baik atau bukan yang kita kehendaki. Ini betul, tetapi orang itu sendiri dapat menerangkan, bahwa cara yang dilakukan itu… untuk memenuhi kemauan dan maksudnya, yang kalau tercapai akan guna menimbulkan rasa tenteram dan selamat itu.

Meskipun saya sendiri tak dapat menyetujui dengan anjurannya yang demikian itu, tetapi di sini bukan maksud kita akan menerangkan setuju atau tidaknya, melainkan menyatakan bahwa meskipun orang itu bertindak dan berperasaan yang orang lain menganggap terbaik, tetapi orangnya sendiri itu berpendapatan tidak seperti pengiraannya lain itu, karena ia menjalankan cara itu katanya untuk menimbulkan rasa ketentraman dan keselamatan.

Mempelajari suatu pelajaran dan pengetahuan itu adalah satu jalan (het pad) untuk menuju pada tempat atau azas yang menjadi kewajiban kita selama hidup di dunia ini, sebab hanya dengan pengetahuan yang sebagai penerangan (het licht) itu sajalah kita dapat mencapai maksud yang luhur itu dengan selayaknya.

Orang yang tak berpengetahuan atau sedikit sekali pengetahuannya itu boleh dibandingkan dengan orang jalan pada waktu gelap-gulita atau tidak pakai penerangan. Ini tentu lebih sukar daripada orang yang berjalan pada jalan yang pakai penerangan. Ada kalanya dengan kerasnya kemauan dan kuatnya badan saja. Itu boleh jadi, tetapi kebiasaannya kemauan dan badan itu kalau tidak lekas mengetahui buah usahanya lalu terkena goda “segan” atau “bosan”.

Dalam perasaan ada orang mengatakan, bahwa orang perempuan itu dikatakan “suwarga – nunut” artinya akan menurut bagaimanapun keadaannya si suami. Ini boleh jadi begitu dan boleh jadi tak begitu. Tetapi ada satu yang nyata, bahwa ia sebaga manusia yang sama segala-galanya dengan orang lelaki (als mensch), hanya perbedaan watak dan kewajiban lahirnya saja, adalah juga mempunyai wajib sebagai “dharma” selama ia di dunia ini.

Dharma itu harus dipenuhi. Untuk memenuhi dharmanya itu hanya dapat tercapai, kalau ia pun juga turut berjuang seperti orang lelaki dalam mengejar pelajaran dan pengetahuan.

Pengetahuan baik lahir maupun batin adalah senjata yang setajam-tajamnya untuk mencapaikan maksud kita, juga yang bersandar pada “dharma”.

IMG_20160421_0001
Keluarga R.A. Kartini

Dari itu maka almarhum Raden Ajeng Kartini selama hidupnya selalu berteriak, supaya orang perempuan pun juga mencari pelajaran dan pengetahuan itu. Geef de vrouw (meisje) het onderwijs, begitulah seruan beliau yang terpenting. Berilah pelajaran pada orang perempuan atau anak perempuan, agar supaya ia pun juga bersepadan perasaan dan fikirannya dengan keadaan jaman yang hanya dapat dicapai dengan kepandaiannya pengetahuan itu. Orang lelaki yang telah berpengetahuan tak akan dapat bekerja bersama-sama atau hidup bersama sebagai suami dan istri dengan perempuan yang tak selaras dengan dia. Kalau terpaksa harus hidup bersama, toh akan ganjil perhubungan dan keadaanya sehari-hari. Orang hidup suami – istri yang tidak selarans itu adalah menjadi bunga yang akhrinya tentu berbuah yang tidak seperti yang kita harapkan, sebab kalau dalam rumah-tangga telah timbul perselisihan atau tidak selaras, itu akan berbahaya bagi ketentraman dan keselamantannya rumah tangga itu. Bukan pada satu rumah tangga di kanan kiri atua tetangganya. Kalau ini menjadi besar, akan berarti bahwa hidup kita dalam masyarakat akan terganggu ketentraman dan keselamatannya.

2 Besant
Annie Besant, tokoh perempuan terkemuka dalam Theosofi

Dalam perhimpunan dan pengetahuan Theosofi pun juga ada pelajaran yang demikian itu. Kita supaya dapat hidup dengan tenteram dan selamat. Untuk mencapai maksud itu hanya dapat dengan pengetahuan dan pelajaran yang…. dikerjakan dengan tenaga (daad). Pun juga perhimpunan kita tidak membedakan antara perempuan dengan lelaki (soal mempelajari pengetahuan). Juga orang perempuan diharap supaya mempelajari pengetahuan kebatinan, sebab orang lelaki yang telah tinggi pengetahuannya tentang kebatinan juga tak dapat hidup bersama sebagai suami-istri dengan orang perempuan yang tidak selaras. Kalau terpaksa hidup bersama dengan keadaan demikian itu, ia tentu pincang.

Sebagai penutup tulisan ini, timbullah suatu pertanyaan, yaitu : Kalau sudah berpengetahuan, cukupkah itu ? Pengetahuan yang terdapat dari pelajaran, itu sebagai cermin dan penunjuk akan bagaimana sebaiknya kita harus menjalankan “dharma” kita. Ini harus dikerjakan dalam praktik, dalam hidup kita masyarakat bersama-sama dalam dunia  dengan orang lain mahkluknya Tuhan.

Pengetahuan yang tidak dikerjakan, hanya menjadi pengetahuan saja, itu boleh dibilang tak berguna sama sekali bagi dunia, juga tak dapat mempercepatnya kemajuan hidup kita yang dinamakan “evolusi”.

Kita, baik lelaki maupun perempuan harus menuntut pelajaran dan pengetahuan. Sesudahnya dapat harus kita kerjakan di dunia ini, menurut pengetahuan masing-masing dengan tenaga.

                                                                   Surakarta, 21 April 1937

Published by

santijn

Seorang penggemar buku sejarah. Menulis blog hanya untuk menyalurkan apa yang telah dibaca. Pengurus dari Loge Sumur Bandung Bibliotheek.

2 thoughts on “Perempuan dalam Theosofi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *