Lonceng Kematian Penerbit Asing itu Berdentang di Bandung

IMG_20160426_0001

Dengan semangat yang menyala-nyala, sebagai modal tenaga kekuatan bathin, disertai perhitungan dan pertimbangan teknis-ekonomis yang tajam dan tepat, saya yakin industri grafika Nasional Asli akan dapat menguasai dunia grafika di Tanah Air kita, sekuat gunung karang yang tidak dapat digoncangkan oleh gelombang samudera konkurensi atau kesukaran lain yang bagaimanapun dahsyatnya.
-Oejeng Soewargana-

Beberapa waktu yang lalu adalah hari buku internasional. Banyak dari kita yang tidak paham bagaimana cara merayakannya selain menunjukan betapa cintanya diri kita terhadap buku. Sebagian orang memamerkan koleksi bukunya, sebagian lain menulis puja-puji terhadap buku, dan banyak lagi cara mengekspresikan perayaan hari buku. Semuanya patut kita hargai, karena setidaknya kita bisa mengetahui seberapa banyak kawan-kawan kita yang masih mengapresiasi buku-buku.

Melihat eksistensi para pecinta buku itu setidaknya menjadi secercah harapan bagi nasib bangsa ini ke depannya. Aku tersentuh oleh sebuah berita yang dibagikan seorang kawanku, menunjukan bahwa tingkat literasi bangsa ini adalah yang terendah dari 60 negara.

https://www.washingtonpost.com/news/answer-sheet/wp/2016/03/08/most-literate-nation-in-the-world-not-the-u-s-new-ranking-says/

imrs.php

Melihat tingkat literasi bangsa yang sangat tertinggal jauh itu tentu saja menyesakkan hati walaupun tidak terlalu mengagetkan. Dewat data tingkat literasi di atas, kita bisa memahami keadaan sebagian kawan sebangsa kita yang mudah terbakar emosi, termakan isu, kabar burung, hoax, atau terprovokasi. Aku yakin, apabila membaca tidak bisa membuat kita pintar, setidaknya bisa membuka wawasan lebih luas.

Tapi entah siapa yang harus disalahkan atas keadaan ini. Dengan melihat data di atas, tampaknya bisa ditemukan keterkaitan antara tingkat literasi dengan tingkat kesejahteraan suatu bangsa. Walaupun perlu penelitian lebih lanjut mengenai kesimpulan tersebut, keterkaitan antara kesejahteraan dan literasi tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu jangan harap nasib bangsa ini berubah sebelum kita memaksa diri kita untuk mengkonsumsi lebih banyak buku dari waktu ke waktu. Jika pun malas membaca, mari paksakan diri untuk membeli buku secara rutin, karena setidaknya hal itu bisa mempengaruhi suburnya bisnis penulisan dan penerbitan buku. Toh salah satu indikator untuk mengukur tingkat literasi bisa juga dilihat dari seberapa banyak karya yang dicetak dalam kurun waktu tertentu. Tingkat literasi dan usaha penerbitan bagaimanapun adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Kematian satu pihak akan mematikan pihak lainnya. Oleh karena itu tidak bisa membicarakan salah satu dunia literasi  tanpa membicarakan kesehatan dunia penerbitan/percetakan.

Bicara soal percetakan/penerbitan buku nasional, sekitar 60 tahun yang lalu terjadi satu peristiwa besar yang mengambil tempat di Bandung. Saat itu, para penggerak literasi nasional berkumpul di Kota Kembang untuk mengambil sikap atas nasib penerbitan nasional. Tepatnya pada tanggal 22-25 Juli 1956 diadakanlah Kongres Pertama Persatuan Perusahaan Grafika Nasional, yang darinya akan mengubah wajah dunia literasi bangsa, yaitu membunyikan “lonceng kematian” bagi perusahaan-perusahaan percetakan Belanda yang selama ini menguasai dunia perbukuan nasional. “Lonceng kematian” dimunculkan sebagai keputusan yang dihasilkan dari 7 sidang yang diadakan selama 4 hari mengambil tempat di Hotel Homann dan Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan di jalan Naripan Bandung. Semuanya direkam dalam buku Kenang-kenangan Kongres Ke-I Persatuan Perusahaan Grafika Nasional Seluruh Indonesia di Bandung, diterbitkan oleh D.P.P. Grafika Nasional, Jakarta tahun 1956.

Tujuan diadakannya kongres, seperti disebutkan dalam sambutan Rochdi Partaatmadja selaku ketua panitia adalah untuk menegaskan posisi penting percetakan sebagai salah satu di antara usaha-usaha vital bangsa dan negara. Selain itu diungkapkan pula peran percetakan sebagai tulang punggung pemerintah, negara, dan rakyat dalam menjalankan kewajibannya guna menghadapi dan menghilangkan segala kekurangan dan kesengsaraan rakyat seluruhnya.

Kami menghendaki proteksi yang sebesar-besarnya dari Pemerintah kami sendiri, demi kepentingan masa depan dan sekarang dari bangsa kita sendiri !

Wakil Presiden M. Hatta, sebagaimana sambutannya yang dibacakan oleh Gubernur Jabar Sanusi Hardjadinata, menyerukan kepada para pengusaha percetakan nasional supaya menolak mencetak buku-buku cabuk atau yang mirip kepada itu yang bisa merusak moral dan jiwa anak-anak dan bangsa kita. Diterangkannya pula peran percetakan yang sangat penting dalam pembangunan, berhubungan dengan penerbitan buku, majalah, koran, dan lain-lain. Menurutnya, Salah satu kekurangan yang terjadi saat itu adalah masih banyaknya bahan ajar yang diproduksi di luar negeri karena lebih murah harganya. Keadaan itu menurut Hatta harus diubah secara berangsur-angsur dalam waktu selekas-lekasnya.

IMG_20160426_0002
Notosoetardjo

Kongres ini dipimpin oleh seorang tokoh literasi yang sangat terkemuka pada eranya, H.A. Notosoetardjo. Namanya tidak asing lagi bagi penggemar Bung Karno. Ya, selain dikenal dekat dengan sang proklamator, Notosoetardjo juga sempat menulis beberapa buku tentang pribadi Soekarno. Kemungkinan besar, Notosoetardjo mendapatkan misi “menghancurkan” penerbit asing langsung dari Bung Karno.

Semangat nasionalisme saat itu memang tengah memuncak, salah satunya dengan menyingkirkan perusahaan-perusahaan asing yang masih bercokol di Indonesia. Sejak jalan kolonial hingga pasca kemerdekaan, perusahaan percetakan asing seperti Van Dorp, Visser, J.B. Wolters, G. Kolff, W. Verluys, Dkk. memang tetap menguasai pasar. Keadaan itu dipandang berbahaya karena bisa menghalangi kedaulatan literasi nasional. Dalam sambutannya, Notosoetardjo mengungkapkan bahwa :

Tahukah saudara, bahwa dari jumlah lebih 800 percetakan Indonesia, di antaranya milik Nasional 339 buah dengan kapasitas 750.845 M2 sejam, milik Tionghoa 378 buah dengan kapasitas 1.068.984 M2 sejam, milik Belanda 76 buah dengan kapasitas 1.106.453 M2 sejam, dan dari statistik tersebut ternyata bahwa kekuatan percetakan asing sedikitnya 2.000.000 M2 sejam, sedangkan keuatan percetakan nasional hanya 650.000 M2 sejam. Inilah lawan konkuren yang harus kita saingi…

…Kita ingin mengingatkan kepada pemerintah dan instansi-instansinya serta orang-orangnya yang bertanggung jawab, agar mereka segera sadar dan insyaf bahwa kepentingan nasional harus didahulukan dengan melalui sgala cara yang bisa. Bahwa usaha melemahkan dan menghentikan aktifitas-aktifitas percetakan asing harus segera ditempuh dengan segala cara yang dapat digunakan.

IMG_20160426_0003
Agenda Sidang pertama di Hotel Homann Bandung

Senada dengan Notosoetardjo, D. Soeradji Direktur Penerbit dan Percetakan Haruman Hidup menyebutkan bahwa walaupun usaha percetakan milik Indonesia asli sejak kemerdekaan terus bertambah jumlahnya maupun tenaganya, perusahaan asing juga terus meningkat jumlahnya. Ia membandingkan kondisi tahun 1950, ketika jumlah percetakan Indonesia asli belum sepertiga jumlah percetakan asing, namun kapasitas tenaga cetak perusahaan asing 10 kali lebih luas dari perusahaan Indonesia asil. Pada tahun 1956, jumlah perusahaan cetak Indonesia meningkat hingga tiga kali lipat jumlah tahu 1950, sekurangnya berjumlah 339 uah, tapi tenaga cetaknya hanya 769.561 M2 atau rata-rata 2.299 M2/jam. Bandingkan dengan perusahaan percetakan asing yang jumlahnya meningkat dua kali lipat sejak tahun 1950, namun kapasitas cetaknya mencapai 2.083.325 M2 atau rata-rata 4715 M2/jam. Jadi setiap perusahaan Indonesia asli luas tenaga cetaknya rata-rata hanya mencapai separuh dari tenaga cetak perusahaan asing.

Menganalisa angka-angka perkembangan tersebut di atas, ternyata pemerintah dari tahun ke tahun sejak kedaulatan Indonesia diakui sudah menganut politik progresif dengan menjalankan politik membatasi berkembangnya percetakan bukan Indonesia asli. Namun meskipun demikian ternyata masih saja percetakan-percetakan asing diberi kesempatan untuk berkembang, baik secara legal maupun tidak legal. Hal ini ternyata dalam praktek, bahwa perusahaan bukan Indonesia asli masih saja berkesempatan menambah mesin-mesinnya dan menukar mesin-mesinnya yang lama dengan yang modern…

Pembicara lain seperti pemilik Ganaco N.V. di Bandung, Oejeng Soewargana mengusulkan dibentuknya dewan percetakan nasional dan dilakukannya perlindungan lebih terhadap usaha percetakan nasional yang belum kuat secara modal. Dikeluhkannya bahwa :

Seingkali percetakan kecil tidak dapat berkompetisi harga dengan Kolff, van Dorp, De Unie, Fuhri, dsb. karena percetakan besar itu mempunyai cukup modal untuk mengimport kertas sendiri, yang tentu saja lebih tepat disesuaikan dengan kebutuhan mesin-mesinnya. Sebaliknya percetakan kecil terpaksa harus membeli kertas apa saja yang bisa didapat di pasar ketika ktu, sehingga sering terpaksa membeli kertas yang formatnya kurang cocok sehingga terpaksa membuang pengeluaran, yang sesungguhnya sangat merugikan.

IMG_20160426_0006
Suasana Kongres
IMG_20160426_0005
Suasana Diskusi dalam Kongres

Ketertinggalan kemampuan produksi percetakan nasional dibandingkan asing nasional tentu saja memprihatinkan. Mr. Ismet Siregar, salah seorang delegasi kongres mengingatkan bahwa kedudukan industri percetakan nasional dalam rangka perjuangan kehidupan bangsa Indonesia menempati tempat yang sangat penting. “Bukankah perjuangan kita di masa yang sudah sangat erat hubungannya dengan pers yang seperti kita ketahui merupakan senjata yang utama, baik dalam menyebarkan cita-cita nasional kita maupun di dalam mempertahankan kedudukan bangsa kita di dalam menghadapi penjajahan ?” ujarnya. Selain itu, Mr. Ismet Siregar menyoroti kebijakan pemerintah membentuk percetakan negara yang ternyata menjadi saingan utama bagi usaha percetakan swasta (partikulir).

Di samping itu, usaha-usaha pemerintah sebagai kelanjutan daripada kedudukan ‘s Lands Drukkerij (percetakan negara) di masa sebelum perang dilanjutkan dengan perluasan yang hebat sekali, hingga merupakan saingan yang terbesar bagi perkembangan percetakan nasional dalam sektor partikelir… Pemerintah dalamhal ini tidak salahnya untuk mendirikan percetakan negara, tetapi hal ini tidak boleh mengurangi kesempatan pada pihak partikelir, melahan sebaliknya menunjang sekuatnya usaha partikelir nasional.

Demikianlah satu per satu suara sumbang menuntut perbaikan nasib dari para pengusaha percetakan nasional itu dikemukakan di Bandung. Dari kongres tersebut diputuskanlah resolusi sebagai berikut :

  1. Menghapus adanya percetakan asing di Indonesia di dalam waktu 1 tahun.
  2. Meniadakan pendirian baru dalam bentuk apapun dan membatasi lapangan pekerjaan cetak mencetak percetakan negara baik di pusat maupun di daerah-daerah.
  3. Menghentikan izin perluasan dan penggantian mesin-mesin cetak bagi penerbit asing.
  4. Menyokong dan memperkuat resolusi Kongres Serikat Perusahaan Surat Kabar (S.P.S.) yang diadakan di Malang pada tanggal 8-10 Juli 1956 mengenai penghapusan surat-surat kabar, majalah-majalah, percetakan-percetakan, biro-biro iklan, badan-badan penerbit, dan toko-toko buku asing.
  5. Mendesak dan menuntut kepada pemerintah dan parlemen untuk mencantumkan dalam RUU penanaman modal asing di Indonesia bab II pasal 3 juga dimasukkan perusahaan-perusahaan percetakan dan penerbitan.
  6. Pemerintah diminta menuntuk bank-bank pemerintah yang tertentu untuk menyediakan kredit khusus untuk keperluan pembangunan industri grafika dengan bunga yang ringan.
  7. Menuntut dari pemerintah meringankan seringan-ringannya dan sedapat mungkin menghapuskan T.P.I. untuk keperluan import mesin dan bahan-bahan grafika. Mendesak kepada pemerintah supaya import keperluan grafika disalurkan kepada importir-importir asli.
IMG_20160426_0004
Gubernur Jawa Barat memasuki arena kongres
IMG_20160426_0007
Notosoetardjo (jongkok) berbicara dengan menteri penerangan Soedibjo

*****

Seperti tercatat dalam sejarah, perlu waktu bertahun-tahun hingga cita-cita para pengusaha percetakan nasional itu terwujud. Kebanyakan perusahaan percetakan/penerbitan asing hengkang seiring dengan gelombang nasionalisasi menjelang memanasnya konflik Irian Barat. Tapi seperti telah diduga sebelumnya, momentum hilangnya penerbit asing itu tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan oleh pengusaha lokal. Tidak lagi ditemukan perusahaan besar pengganti Kolff, van Dorp, De Unie, J.B Wolters, dsb. Apabila kuamati sebagai penggemar buku lawas, pada masa itu pula dimulainya keredupan dunia perbukuan nasional. Buku-buku bermutu seakan-akan hilang. Hanya beberapa buku saja yang bisa dianggap monumental.

Kondisi sekarang tentu jauh berbeda. Kini saingan utama para penerbit nasional bukanlah perusahaan asing, melainkan rendahnya minat baca dan terjangan perkembangan zaman. Sebagian orang sudah menganggap buku fisik sebagai barang usang. Kini eranya e-books dan artikel online. Sudah enggak jamannya lagi orang menenteng buku ke mana-mana, semuanya sudah bisa diakses lewat smartphone. Dengan keadaan itu bukan hanya industri percetakan saja yang terancam, toko-toko buku juga semakin kehilangan pengunjung. Malangnya, untuk menyiasati keadaan tersebut banyak penerbit yang lebih memilih menerbitkan buku-buku tidak berkualitas yang notabene banyak peminatnya. Makin hancurlah dunia literasi bangsa ini…

Oleh karena itu, berbahagialah mereka yang masih menggemari buku-buku dan bergelut dengan dunia perbukuan terlepas dari segala keterbatasannya. Betapa bahagianya diriku melihat bergairahnya bisnis buku bekas di internet. Setidaknya hal itu menunjukan geliat para pejuang buku dalam menghadapi perkembangan zaman. Akhirul kalam aku mengucapkan apresiasi sebesar-besarnya untuk teman-teman yang ikut merayakan hari buku dengan berbagai caranya.

Published by

santijn

Seorang penggemar buku sejarah. Menulis blog hanya untuk menyalurkan apa yang telah dibaca. Pengurus dari Loge Sumur Bandung Bibliotheek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *