Tentang Diriku

73

ama nesciri et pro nihilo reputari

Aku persembahkan blog ini kepada ibu dan ayahku, yang telah mewariskan hobby membaca bukunya kepadaku…

Namaku Santi Jehan Nanda. Terserah mau dipanggil Santi, Jehan atau Nanda, tapi aku lebih suka dipanggil Jehan. Panggilan itu lebih cocok untuk wanita seusiaku.

Saat aku ini tinggal di Bandung. Di  sebuah rumah tua ditemani  Minerva, kucing kesayanganku, beserta setumpuk buku-buku buluk koleksiku. Pada usiaku yang tidak muda lagi ini, aku hanya ingin berbagi informasi seputar buku dan kisah sejarah yang kuanggap menarik.

Mengapa tidak sejak dulu aku mulai menulis, terus terang ini adalah akibat kebodohanku.  Aku sangat menyesal. Baru sekarang aku sadari bahwa banyak membaca tanpa berbagi / menulis adalah sebuah dosa besar. Menimbun ilmu tanpa membaginya adalah sebuah kesia-siaan belaka.

Aku bukan seorang penulis, malahan boleh dibilang aku adalah seorang penulis yang buruk. Aku pembaca yang lapar, namun terlalu “lumpuh” untuk menulis. Maafkan segala keterbatasanku dalam menumpahkan pikiran  ke bentuk tulisan. Aku bukan  sastrawan  dan bukan pula  sejarawan. Semua posting dalam blog ini tidak lain hanyalah sekadar upayaku untuk menunaikan tanggung jawab sebagai seorang pembaca buku yang baik. Semoga semua tulisan bisa menjadi tambahan informasi untuk teman-teman sesama penggemar buku / sejarah. Ini adalah penebusan dosaku, semoga aku diberi kekuatan oleh Tuhan untuk tetap bisa berbagi.

Demi keberlangsungan blog dan perawatan pustaka, telah dilakukan kerjasama dengan Perpustakaan sederhana “Loge Sumur Bandung”. Seluruh buku / artikel yang terdapat di blog ini dengan demikian bisa diakses di sana.

Aku sangat senang bisa berkenalan dan berdiskusi dengan penggemar buku/ sejarah lainnya. Oleh karena itu aku mohon kesediaan pengunjung blog ini untuk meninggalkan kesan atau berdiskusi melalui kolom komentar di bawah. Terima kasih atas kunjungannya ke blog sederhana ini.

Follow  twitterku @Santi_JN

32

Pertanyaan mengenai buku-buku bisa diajukan pada :
Loge Sumur Bandung Bibliotheek
Dago, Bandung
Kontak  : 0856 2425 3835
Email : sumurbandung@gmail.com

Logo Bibliotheek
Perpustakaan Loge Sumur Bandung – Santi JN

burning-books-quote

Buku

 

153 thoughts on “Tentang Diriku”

  1. Salam kenal Bu Jehan, saya nyasar ke blog ini ketika mencari tentang buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Saya sangat menikmati postingan mengenai resensi-resensi buku sejarah di blog ini. Semoga Bu Jehan tetap berkarya dan bahkan menulis buku sendiri :)

    1. Salam kenal juga, terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Senang sekali atas responnya… Amiin, smoga saya diberi rezeki dan kekuatan agar bisa mereview buku-buku lainnya, saya ingin banget nulis buku, tapi sepertinya belum ada waktu saat ini.. hehe

      1. Salam kenal, saya Hasan Mustapa dari Garut kelahiran Bandung. Kebetulan rencananya berminat membuat disertasi tentang pemikiran Haji Hasan Mustapa. Mungkin bisa diskusi lebih banyak dengan ibu. trims

        1. Salam kenal juga… terus terang aku kurang mendalami soal ini.. tapi apabila memungkinkan apakah bapak bisa menghubungi Ajip Rosidi yang membuat disertasi dengan tema yang kurang lebih sama

  2. Ass.Wr.Wbr.,

    Yang terhormat bu Jehan, saya sangat ingin sekali bertatap muka dengan ibu dan mempelajari sejarah Mataram terutama mbah dalem Amangkurat Agung. Banyak yang ingin saya tanyakan dan memahami kembali dari mana saya berasal, semoga suatu hari nanti kita dapat dipertemukan. Salam hormat saya……

    Wayah Mataram

    1. Wass.WrWb. Salam hormat juga..
      Waduh, kalo aku kebetulan hanya mengetahui sejarah amangkurat dari buku… Untuk lebih jelasnya mungkin bisa mendatangi penjaga makam di Tegalarum, dia pastinya lebih tau soal Amangkurat..

  3. Justru tulisan bu Jehan ini yang menarik minat saya bertemu:

    Kajian mengenai Amangkurat I sangat menarik minatku karena bagaimanapun aku adalah keturunan ke-sekian dari beliau. Dari selembar keterangan yang kudapat dari orang tuaku, garis keturunan itu menjadi lebih jelas. Isinya adalah sebagai berikut :

    Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Susuhunan Prabu MANGKURAT AGUNG Hing MATARAM (Semare hing pasarean Tegalarum Purwokerto) — Bendara Pangeran Haryo MATARAM — Kangjeng Raden Tumenggung MLOYOKUSUMO — Raden Panewu DEMANGMLOYO I — Raden Panewu DEMANGMLOYO III — Raden Nganten PRAWIRENGLOGO (SINDUWIROGO I) Semare hing lempuyangan — R. Ng. SINDUWIROGO II Semare hing Sidikan — R.P. Windudipuro Semare Mejing — Ardjono Windudipuro Semare Bandung.

    Saya ingin bersillaturahmi sesama saudara apabila diperbolehkan dan melihat koleksi2 bu Jehan soal Mataram. Alhamdulillah saya sudah ziarah ke makam mbah dalem dan bertemu langsung dengan kuncen-nya dalam pengembaraan saya.

    1. Wah justru sepertinya malah aku yang harus minta informasi ke mas soalnya sampe sekarang aku belum kesampaian berkunjung ke makam mbah Amangkurat. Boleh deh kapan2 bertemu tapi aku takut mas kecewa soalnya terus terang aku nggak punya informasi banyak soal Amangkurat kecuali dari dua buku karangan de Graaf yang dibahas di blog ini… Aku usul mas baca dulu dua buku itu kalau kebetulan nemu, aku jamin informasinya cukup memadai…

    2. saya cucu dari Mbah Arjono Windudipuro, tinggal di Bandung. Tidak sengaja menemukan tulisan ttg amangkurat yg di dlmnya tertera nama mbah kakung saya. Dulu saya pernah diceritakan oleh sepupu sy yg tinggal di Gamping bahwa kami adalah turunan amangkurat tp tdk sedikitpun saya tertarik, tp membaca tulisan ibu Jehan, tergelitik sy utk membaca lebih jauh siapa sih amangkurat itu.., skrg ini sdg proses membaca disela kesibukan bekerja. masih memcoba memahami sosok
      amangkurat…:)

      1. Masih keturunan Amangkurat juga ya.. berarti kita bersaudara.. hehe.. memang sejarah tokoh ini cukup menarik, sayangnya keterangannya masih perlu banyak digali lagi..

  4. Boleh bu, kita bisa sharing bersama. Kebetulan memang sekarang saya sedang banyak melakukan kajian baik melalui tulisan maupun cerita beberapa sumber yang menurut saya dapat dipercaya soal mbah dalem yang satu ini. Karena saya yakin dan percaya, misi dari pengembaraan saya terdahulu bukanlah sebuah cita-cita saya belaka, namun sebuah napak tilas tentang sejarah Mataram sampai pada akhir-nya saya dibawa ke Tegalarum yang lokasi-nya ada di Tegal (bukan Purwokerto, maaf saya koreksi sedikit).

    Untuk bacaan buku karangan de Graaf, kurang lebih intisari-nya saya sudah pahami. Justru ini menarik-nya, saya sangat ingin mengetahui sisi baik-nya Amangkurat Agung diluar kekejaman beliau seperti yang ditulis oleh kedua buku tersebut dan ditulis kembali oleh Ricklef dalam buku Indonesia Modern (kalau saya nggak salah judul-nya). Perlu bu Jehan ketahui, makam mbah dalem Amangkurat Agung itu sekarang banyak dikunjungi oleh ulama2 besar dari Indonesia sendiri maupun negri seberang, ini sangat kontradiktif dengan beberapa cerita yang terdapat di buku2 tersebut. Bahkan kuncen makam juga bercerita kepada saya kalau tidak semua penulisan sejarah itu benar ada-nya, menarik bukan?

    Mendiang ayah saya pernah berpesan kepada saya, nyaris sama dengan kata penutup tulisan bu Jehan ketika saya bertanya kepada beliau soal Amangkurat Agung (terus terang saya cukup kaget dan sedikit penasaran ketika saya mengetahui kalau saya keturunan Mataram dan ayah saya tidak pernah bercerita kepada saya, tidak seperti bu Jehan yang tahu dari ayah-nya).

    Kalau boleh saya minta alamat atau nomer hp bu Jehan yang dapat saya hubungi (mohon data dikirim melalui e-mail saya ungky2001@yahoo.com), kalau ada waktu saya akan ke Bandung dan menyempatkan bertemu dengan bu Jehan untuk sillaturahmi dengan beberapa wayah Mataram lain-nya……

    1. Betul mas, pasti ada perbedaan pendapat soal sejarah. Soal mana yang benar itu memang kembali kepada diri kita untuk memutuskan. Boleh deh nanti kalau ke Bandung kita ngobrol2, bisa kontak2 lewat twitter juga koq..

  5. Salam kenal Bu Jehan. Senang menemukan blog Anda, yang menuliskan sejarah tanpa motif. Sejarawan seharusnya jujur menyajikan informasi sejarah. Saya juga senang dengan blognya Roso Daras, informasinya lengkap, namun beliau tidak adil bila menyangkut hubungan sukarno dan suharto. Sukarno terlalu dikultuskan bak malaikat. Cara menceritakan suharto, seakan-akan adalah makhluk super kejam. Bukankah sukarno juga menutup jasa2 kawan sepejuangannya semacam gatot, subardjo, syahrir, yamin, iwa, dll. shg di jaman orla tidak ada pahlawan terhebat selain soekarno. Bu Jehan telah mencoba mengungkap sisi2 yang diabaikan Bung Karno. Kisah oetari, inggit, gatot, dll, membuka perspektif lain sisi manusia soekarno.

    1. Salam kenal juga Mas Ardi… Terima kasih atas kunjungannya ke blog ini. Memang seharusnya seperti itu, sejarah memang tidak bisa 100% objektif, sehingga kita hanya bisa berharap pada kejujuran saja.. Aku memang hanya berusaha mengungkap apa yang terdapat dalam buku, walaupun aku juga memiliki kepentingan untuk menjelaskan motif penulisnya.. Betul sekali bahwa banyak sekali perpektif yang bisa diambil dalam membaca sejarah, aku ingin menulis lebih banyak lagi tapi doakan saja semoga bisa terlaksana.. amin..

  6. Saya punya request Bu. Boleh, ya. 1) latar belakang bersatunya soekarno-hatta pada awal pendudukan Jepang, padahal sebelum itu kedua tokoh ini terkenal ‘bermusuhan’, bahkan hatta meledek soekarno “menangis dan minta ampun pada ratu belanda agar tidak dibuang ke digoel (camp konsentrasi ala belanda), akhirnya BK hanya dialihkan ke ende (diasingkan ke permukiman misionaris).” ; 2) kisah pengadilan dengan saksi jenderal sudirman, pada mahkamah kudeta 3 Juli 1946 yg gagal, khususnya yang mengadili tan malaka dan jenderal mayor soedarsono; lalu bagaimana kisah biografi jenderal mayor soedarsono selanjutnya, tiba2 menghilang dari sejarah. ; 3) biografi mayor jenderal pranoto reksosamudro seputar 1965, ditahan, dan setelah ditahan pada era orde baru.

    1. Wah requestnya agak berat. Yang pertama dan kedua sudah agak terbayang, tapi yang ketiga agak sulit.. aku nggak janji ya… tapi aku coba buka-buka lagi beberapa buku deh,,,

  7. salam kenal bu jehan. Blog ini memiliki informasi berharga bagi saya dan indonesia juga pengetahuan. Terimakasih.

  8. Bu Jehan, saya terima kasih sekali untuk postingan-postingannya. Saya salah satu pencinta Buku dan Sejarah. Kebetulan, saya “nyasar” kesini setelah saya klik link yang membahas Buku lama yang membahas sejarah Kepanduan. Amat sangat menarik. Karena saya juga seorang anggota Pramuka. Seru rasanya membaca setiap tulisan Ibu karena selalu berhasil membuat alam pikiran saya berkelana ke dalam setiap narasi yang tertulis. Tetap memandu bu Jehan. :)

    1. Terima kasih juga Mas Indra atas kunjungannya ke blog ini, senang bisa bertemu dengan rekan Pramuka lainnya walaupun hanya di dunia maya… Sama-sama mas, Selamat berkegiatan di Pramuka juga ya… Salam untuk teman-teman Pramuka yang lain…

  9. Hallo.. Bu Jehan yang baik, saya baru malam ini membuka blog Ibu, belum teralu banyak tulisan dan ulasan buku yang saya baca,, namun, dari beberapa itu membuat saya semakin tertarik untuk membaca lebih banyak lagi. Terima kasih sudah sharing dengan kami semua, para pengunjung blog ini 😉
    Mulai malam ini, saya akan berkunjung terus bu, gak perlu repot-repot sediakan teh hangat dan pisang goreng,,, saya kan tetap datang kok bu.. hehehhehe…

    1. Terima kasih Mas Awwal atas kunjungannya, Semoga betah.. Kalau datangnya agak siangan mungkin bisa aku sajikan teh dan snack pendampingnya, tapi kalau malam harap pengunjung bawa sendiri kudapannya… hehehe

  10. Suka ungkapan belandanya dan aku pelbaca yang lapar namun terlalu lumpuh untuk menulis, saya banget Bu :'( salam kenal ya Bu, ijin copas saya akan add Ibu ya di fb dan twitt,,tp twit saya juarang sekali saya pakai Bu, malah hanya untuk kuis2 saja :) salam kenal sekali lagi Bu :)

  11. Asslamualaikum Ibu Jehan,
    Salam kenal Ibu, saya tiba2 saja mencari data silsilah keluarga Windudipuro yang sareannya ada di Mejing, Sleman. Namun
    alhamdulilah yang keluar adalah tulisan2 Ibu yang sangat menarik.
    Saya salah satu cucu dari RP. Windudipuro, dan makam kedua orang tua saya bersebelahan dengan beliau. Sehingga setiap saya nyekar juga berdoa agar keluarga besar Windudipuro senantiasa mendapat ampunan dari Allah SWT.
    Kami, para cucu2 Almarhum RP. Windudipuro setiap 3 bulan berkumpul untuk silaturahim yang tercatat disekitar Joglosemar sekitar 60 orang. Berkumpul agar saling mengenal.
    Saya berharap suatu saat ada pertemuan secara menyeluruh keturunan dari Eyang RP. Windudipuro ( termasuk juga trah Sinduwirogo).
    Terlalu panjang saya menulis Ibu, semoga suatu saat dapat bertemu di Jogja. ( saya tinggal di Solo)

    1. Walaikum salam, Mas Sarwono… Salam kenal juga, senang sekali bertemu dengan keluarga walaupun di dunia maya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mengunjungi makam mbah Windu.. Boleh nanti kalau ada kumpul2 lagi hubungi aku ya, siapa tau keluarga yang di Bandung ini juga bisa kuboyong ke sana.. Aku juga sudah rindu sekali buat berkunjung ke Jogja..

  12. Salam, Bu.
    Saya baca-baca artikel yang Ibu buat, terutama mengenai peristiwa Bandung Lautan Api. Oh iya, saya ini pengajar, dan kebetulan kelas saya lagi membahas mengenai Bandung Lautan Api. Tapi kami kurang referensi soal peristiwa itu. Kalau berkenan, saya ingin bertanya (dan jika memungkinkan, nanti murid saya yang mewawancarai Ibu) pada Ibu mengenai beberapa hal. Boleh, Bu? Nuhun.

    1. Oh boleh sekali,, Sebenarnya aku belum terlalu ahli soal itu, tapi soal referensi mungkin bisa membantu.. nanti bisa komunikasi lebih lanjut lewat email atau twitter saja ya,,

  13. Selamat Malam Ibu Jehan. Saya nyasar ke blog-nya karena ada sampul “Sebelum Prahara” Pak Rosihan Anwar di laman pencarian. Bulan kemarin baru saja tamat buku itu. Untuk pelengkap referensi, bisa baca juga buku “Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung.” Semakin terasa bagaimana tekanan (opresi) rezim masa itu. Terima kasih. Saya akan ikuti terus tulisannya. Salam. Obor Kahuripan-Bandung.

    1. Salam kang… Terima kasih atas kunjungannya ke blog ini. Kebetulan aku sering menemukan buku itu tapi entah kenapa selalu terhalang untuk membelinya.. Jadi nyesel deh sekarang hehe.. Semoga nanti dijodohkan dengan buku itu supaya bisa kubuat reviewnya..

  14. Salam kenal bu Jehan. saya menemukan blog ibu ini dari postingan seorang teman dan saya suka sekali. kebetulan saya membuat sebuah blog yang saya beri nama Satutimor.com dan konsentrasi kami juga ke sejarah. Saya ingin bertanaya apakah boleh kami memuat tulisan-tulisan ibu di satutimor.com? kebetulan kami juga menggunakan wordpress jadi bisa saya tulisan ibu kami REBLOG saja atau bisa juga dicopy dan diposting kembali. demikian permohonan kami semoga berkenan. Terima kasih. Salam

  15. Terima kasih bu. Nanti kami pilih beberapa dan akan kami muat. Satu lagi pertanyaan, bagaimana nanti kami menggambarkan keterangan tentang penulis? Saya punya ide menulis ketentangan tentang penulis spt ini : Santi J. N., Pencinta buku dan penulis, tinggal di Bandung. Lalu kami kasih hiperlink ke laman ini. Apakah ini berkenan atau ada despkripsi lain yang lebih pas? Rencana kami, tulisan2 ibu akan dicopy dan diposting ulang dan bukan direblog sebab diposting ulang lay-outnya lebih bagus.

  16. Salam kenal bu jehan,
    Postingan bu jehan sangat informatif, komunikatif dan inspiratif. Sebagai penggemar buku sangat berguna sekali untuk menambah wawasan. Terus bekarya ya bu…

    1. Salam kenal juga Mas Hernadi.. aku juga selalu mengikuti tulisan-tulisan di blog Mas Hernadi, yang bahkan menjadi inspirasiku untuk membuat blog ini… Terima kasih sudah berkunjung ke mari…

  17. salam knal Bu Santi, saya seneng banget bisa baca blog ini. terutama tentang Franz Wilhelm Jugnhuhn. kira” Ibu ada ga sejarah tentang KAR Bosscha? saya tertarik utk mengetahui sejarah beliau, dan juga sahabat” beliau yang udah membangun tanah preanger menjadi *promising land* dan juga memajukan bidang agraria, science dan juga peternakan.

    saya tertarik pengen tahu sejarah tentang sisi lain kolonialisme di tanah jawa terutamanya preanger, n skalian mncari tahu silsilah kluarga saya.

    terima kasih

    1. Salam kenal juga… Kisah mengenai secara ringkas sudah kutulis di artikel
      K.A.R. Bosscha dan Penelitian Penyakit Lepra , bisa dicari saja di “Lemari Buku”… Mengenai sisi lain kolonialisme nanti akan kutulis kalau ketemu buku khusus yang membahas itu… Terima kasih juga sudah berkunjung ke blog ini…

  18. Selamat malam bu Jehan, salam kenal, sangat senang sekali saya menemukan blog ini, karena disamping saya penggemar sejarah saya juga kutu buku, dan pastinya buku2 yang saya baca selalu berkaitan dengan sejarah..
    Mohon ijin saya copas tulisan2 ibu ini untuk forum diskusi komunitas penggemar sejarah di intranet tempat saya bekerja..

    1. Selamat malam juga.. Salam kenal.. Senang sekali aku bisa bertemu orang “sealiran”.. hehehe.. Silakan disebarkan tulisannya, aku sangat senang apabila tulisanku bisa dijadikan bahan diskusi…

  19. Salam kenal bu, blog ini baru saja hari ini saya buka. Kebetulan saya gemar sekali foto bangunan2 tua peninggalan Belanda di bandung. saya juga senang baca sejarah2 tentang Bandung tempo dulu.

      1. meskipun tidak bertemu langsung, namun saya ucapkan terimakasih atas kebaikan ibu dalam menyuguhkan karya yang sebelumnya belum pernah nurul amin temui selama di bangku kuliah.

  20. Betapa tdk mengenakkan jika kita memuja bandoeng… soetan sjahrir…. sejarah…buku jadul…. tapi kita berada di sisi yg jauh dari itu semua… betapa beruntungnya anda..bu jehan

    1. Aku selalu bersyukur bisa tinggal di kota Bandung yang bersejarah ini dan bisa dekat dengan buku-buku… Oleh karena itu ada tanggung jawab untuk menyebarkan itu semua..

  21. Salam Bu Santi yang baik, saya sangat terkesan dengan tulisan ibu. Gaya bahasa yang sangat mudah dicerna dengan disertai kedalaman referensi. Perkenalkan, nama saya Sigit, editor Galangpress Yogyakarta. Saya teramat ingin menawarkan Ibu untuk membukukan karya-karya Ibu. Jikalau boleh, saya ingin berkorespondensi dengan Ibu lewat email. Alamat email saya: sigit.suryanto@galangpress.com. Atas perhatian dan kerja sama Ibu, saya ucapkan terima kasih. Salam dari redaksi Galangpress Yogyakarta

    1. Salam Mas Sigit, terima kasih atas apresiasinya… Terus terang aku belum percaya diri untuk mengemas tulisan ini dalam bentuk buku… Tapi apabila kiranya memungkinkan tentu saja aku akan sangat senang sekali karena itu adalah impianku selama ini.. Baik Mas, secepatnya akan kulakukan korespondensi via email.. Terima kasih sebesar-besarnya atas perhatian yang diberikan..

  22. Salam kenal Ibu Santi.
    Saya menemukan blog Ibu, saat sedang mencari mengenai Trah Sinduwiraga. Ternyata minim sekali data yang ada di internet. Saya adalah cicit dari R. Jayengdipo (adik dari RP. WIndudipuro) yang juga dimakamkan di Pasareyan Mejing. Kakek dan nenek saya juga dimakamkan di Mejing, satu komplek dengan Embah Penewu (demikian kami ngaturi RP Windudipuro).

    Generasi saya mungkin kurang memahami mengenai Trah SInduwiraga ini. Saya sempat membaca dari leaflet yang dibuat saat Syawalan Trah di Yogyakarta tahun 2005, bahwa di Bandung pernah diterbitkan Buku Trah Sinduwiraga saat Syawalan Trah di rumah keluarga R. Ardjono Windudipuro.
    Apakah Ibu memiliki buku tersebut? Bolehkah saya mendapat copy-nya?

    Seperti tag pada blog Ibu ini: ‘Di dalam kekinian terkandung masa lalu, di masa sekarang termuat masa depan’, maka saya merasa perlu generasi saya mengenal lebih baik sejarah luluhur agar bisa belajar lebih banyak demi masa depan. Juga agar kami generasi muda tidak “kepaten obor”..

    Demikian, matur sembah nuwun

    1. Salam kenal juga, senang sekali bisa bertemu dengan keluarga besar Sinduwiragan di sini. Aku pernah lihat buklet itu tapi sayang sekali lupa menyimpannya… Aku setuju sekali keluarga dan keturunan perlu mengetahui sejarah keluarga agar bisa mengambil hikmahnya.. Terima kasih sudah berkunjung ke sini, salam untuk segenap keluarga Sinduwiragan.. Semoga suatu waktu bisa bertemu..

  23. Oii Bu Jehan,
    Bisa sangpay di mari, gegara googling bugku Semerbak Bunga di Bandung Raya tapi kali ini nyasar yang menyenangkan, euy 😉
    Jadinya bisa baca2 tulisan Ibu yang mengasyigkan.
    Dari lubug hatchi yang paling dalam, saya mengucabkan terima kasih kepada ibu atas sharing tulisan2nya. Semoga tetap sehad dan berkarya, ya, Bu Jehan.

  24. Salam kenal Ibu Jehan, saya peminat buku buku tentang sejarah freemansory dan teosofi. Ingin sekali saya berkunjung melihat koleksi buku ibu dan memfotocopy beberapa buku, jika ibu berkenan. terima kasih

  25. wah senang sekali nemu blog bu Santi ini. Penuh ulasan tentang masa lalu dan masa kini. Terutama interaksi ibu dengan buku yang intens walaupun katanya belum nulis satu bukupun. Salam kenal bu.

  26. Selamat siang mba Jehan, salam kenal, terima kasih atas postingan-postingannya yang kaya manfaat, dari postingan mba saya banyak mendapat pengetahuan dan memperkaya jiwa saya, tetap menulis ya mba

  27. Salam mba jehan… Belakangan ini saya sangat penasaran dg sejarah keluarga HOS Tjokroaminoto…setelah mencari satu per satu page untuk menjawab rasa penasaran saya, akhirnya hanya bolg milik mba jehan yg menurut saya sangat menarik. Hingga akhirnya seharian ini saya hanya terfokus pada blog mba jehan. Disini fokus saya teralihkan pada cerita tentang bung karno dan para istrinya yg ditulis dengan berbeda dan sangat informatif untuk saya. Saya mengucapkan terima kasih untuk mba jehan yg sudah menuliskan sejarah dg sangat menarik hingga saya seperti haus untuk terus membacanya… :)

    1. Salam juga Mbak Indriyanti.. Terima kasih juga sudah berkunjung ke sini. Semoga nanti bisa lebih banyak lagi kutemukan buku/informasi tentang istri Soekarno yang bisa kubagikan di sini…

  28. Mbak Santi, saya Michael Tani Wangge, biasa dipanggil Mike Wangge. tanggal 6 Juni tahun 1988, sewaktu masih wartawan di Suara Pembaruan, saya ke Bandung, dan menemukan buku Semerbak Bunga di Bandung Raya. Buku itu masih saya simpian, karena juga menjadi referensi saya untuk menulis. Setelah pensiiun dari SP, sekarang di tahun 2014 ini saya di Harian Karawan Bekasi. Saya ingin menulis tentang Mbak di koran saya. mohon informasi lebih tentang data diri dan sebagainya, kalau berkenan minta nomor kontaknya Mbak. tks
    Reply

  29. Terima kasiih banyak atas jawabannya. Hari ini saya sudah turunkan tulisan tentang Haryoto Kunto, dan Ibu Jehan di Harian Karawang Bekasi, satu halaman surat kabar, di halaman 8 fearure. Judulnya : “Menari Haryoto Kunto Menemukan Perempuan Hebat dari Bandung (1). Tullisan ini bersambung hingga besok, dan mungkin masih bisa bersambung lagi untuk hari-hari berikutnya. Untuk besok, Rabu, Judulnya sudah saya buatkan pagi ini, “SANTI J.N, PEREMPUAN HEBAT DARI BANDUNG. DI bawah ini saya kirimkan naskah tulisan pertama saya:
    Mencari Haryoto Kunto Menemukan Perempuan Hebat dari Bandung
    Tanggal 6 Juni tahun 1988. Hari itu saya berada di kota Bandung dalam rangka tugas jurnalistik dari Harian Umum Suara Pembaruan, meliput acara pertandingan olahraga bola voli. Hampir semua pemain nasional dari berbagai klub/perkumpulan seluruh Indonesia berkumpul di sana. Semua atlet, termasuk wartawan, menginap di sebuah hotel sederhana. Saya lupa nama hotelnya, maklum peristiwanya terjadi 26 tahun yang silam.
    Di sore yang cukup cerah, dengan angin dingin menusuk di pori-pori tubuh, saya berkeliling di jalan tidak jauh dari hotel. Maksudnya untuk menghirup udara yang lebih segar lagi. Di pingir jalan, ada seorang penjual buku murah. Sepanjang jalan itu, cukup banyak pedagang menjajakan makanan mereka, tetapi hanya ada satu saja pedagang buku.
    Jumlah bukunya banyak sekali. Ada beragam judul buku berserakan di emperan jalan di atas terpal dagangannya. Dari tumpukan buku-buku itu, ada satu buku yang menarik perhatian. Bukunya tebal, berwarna hijauh dengan judul : “Semerbak Bunga di Bandung Raya” Tebalnya, 1118 halaman. Menyolok sekali tebalnya di antara buku-buku yang lain.
    Penjual buku mengatakan, “Meskipun tebal, harganya murah, hanya Rp 5000 saja. Jauh lebih murah dari buku Ekologi Sulawesi yang saya beli di Toko Buku Naviri, di Lapangan Karebosi, Ujung Pandang (Makassar) setahun sebelumnya (1987). Harganya Rp 15.000. Buku Semerbak Bunga di Bandung Raya yang dijualnya adalah hasil fotocopian. Covernya saja yang dicetak, kemudian dijilid sesuai buku aslinya”. Sepintas orang bisa salah duga, buku hasil fotocopian itu adalah buku aslinya. Inilah cara penggandaan buku yang dilakukan oleh penjual-penjual buku murah kala itu, selain menguntungkan secara ekonomis, juga untuk menjawab permintaan buku yang cukup banyak dari kalangan mahasiswa yang kesulitan membeli buku buku asli karena harganya sangat mahal.
    Buku Semerbak Bunga di Bandung Raya adalah buku hebat, dikarang oleh Haryoto Kunto. Setelah membelinya, sepanjang malam itu, saya habiskan waktu dengan membacanya. Kesan saya setelah membaca, ialah, penulisnya sangat kaya akan pengetahuan masa lampau tentang Tanah Sunda berikut sejarah yang jarang dapat ditemukan dalam buku-buku yang lain. Penulis menempatkan diri sebagai pemerhati kota Bandung, karena itu ia menganjurkan agar semua orang menjaga lingkungan dengan baik dan jangan merusaknya.
    Haryoto Kunto membagi bukunya, ke dalam 21 BAB. Bab pertama judulnya Awal Cerita, kemudian berturut-turut Bab berikutnya tentang Telaga Bandung, Bandung Tanah Bumi Sangkuriang, Tanah Air dan Air Tanah, Pelestarian Alam Bandoeng Tempoe Doeloe, Lahan Hijau Kota Bandung, Rindu Taman Firdaus, Perkumpulan “Bandoeng Vooruit” – Sang Raja Teh dari Priyangan, Insulinde Park – Toko “De Vries”, Taman Tropis Kota Bandung, Masih Sekitar Alun-Alun Bandung, Bandung Sorga Tukang Jajan – Krupuk versus Hamburger, Yang Unik Yang Menarik, Biarkan Kotaku Tetap Hijau Lestari, Burungpun Tak Lagi Mau Bernyanyi – Van Reup Tot Bray, Lemba Sungai Cikapundung, Kisah Usang Sebuah Kota, Bandung Menjelang Tahun 2005, kemudian ada Epilog, dilengkapi dengan Daftar Nama Jalan di Kota Bandung Dulu dan Sekarang, ditambah dengan indeks.
    Ringkasan isi pada Bab pertama dikemukakan tentang mengapa ia mencintai Kota Bandung. Untuk itu di awal Bab pertama ia menyitir sebuah puisi Belanda. Bunyinya seperti di bawah ini i:
    Er is maar een stad
    Die mijn stad kan zijn,
    Zij groeit met de daad
    En die daad is mijn
    Hanya ada sebuah kota
    Yang mungkin jadi tempat mukimku,
    Dia berkembang dengan segala daya upaya
    dan upaya itu adalah jeri payaku
    Selanjutnya, pada Bab tersebut Kunto mengakui bahwa ia pun akhirnya mencintai kota Bandung, juga karena serba kebetulan. Kebetualn ada orang menulis di Harian Pikiran Rakyat di Bandung. Kunto, menuliskan demikian, “Saya adalah sebagian generasi muda yang melimpah di kota Bandung. Semula saya acuh tak acuh terhadap kota Bandung. Namun sejak Harian Pikiran Rakyat memuat tulisan bersambung dengan judul : “Selamatkan Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe, membuat saya menyintai kota Bandung yang indah damai dan tenang,…. Walaupun itu mungkin terjadi hanya dalam harapan (harian Pikiran Rakyat, 29 Juli tahun 1983).
    Gaya penulisan Haryoto Kunto dalam menuturkan idenya, mengalir seperti air, juga ringan dengan menggunakan kata-kata yang sederhana. Ia tertib menggunakan kalimat-kalimat pendek, bersifat menutur, dan sedikit jenaka, namun di sana-sini selalu dibumbui dengan kata-kata Belanda. Dari tulisannya dapat diketahui, Kunto mahir berbahasa Belanda, dan sangat kaya akan data-data.
    Dan karena begitu mengagumi penulisnya, saya membuka lembaran paling belakang tentang diri penulisnya. Di sana saya temukan sedikit riwayatnya. Haryoto Kunto, demikian sering saya menyebutkan namanya, kalau sedang berbicara tentang dia pada rekan-rekan wartawan lain, mulanya bukan seorang penulis. Dia hanyalah seorang “kutu buku”.
    Nama lengkapnya Harry Haryoto Kunto. Dia adalah sarjana Planologi ITB (Institut Teknologi Bandung). Haryoto Kunto menulis bahwa ia dilahirkan di Rozenlaan Bandung yang sekarang nama jalan tersebut sudah diganti menjadi Jalan Haji Mesri No. 5 Bandung. Bisa ditebak, mengapa ia lebih suka menyebut tempat kelahirannya dengan nama Belanda, hal ini karena dia mengingingkan pelestarian sejarah lama kota Bandung. Demikian juga ia tidak menyebutkan tahun kelahirannya, tetapi peristiwa sejarah yang terjadi pada waktu itulah yang ia sebutkan, misalnya ia menyebutkan bahwa ia dilahirkan beberapa saat sebelum Pemerintah Kolonial Hindia Belanda bertekuk lutut kepada bala tentara Jepang, yang berarti pada tahun 1942.
    Dia adalah anak bungsu dari selusin putera-puteri pasangan yang belum mengenal KB, Siti Kadariah, karaywati Kantor Pos di Tegal dan R Kunto, pegawai “Staats Spoorwegen” (PJKA sekarang) di Gombong zaman baheula.
    “Kasihan si Harry. Dia tidak kebagian “zaman normal” komentar Ny. Kadariah tentang putera bungsunya yang beranjak dewasa ‘di perjalanan’. Berpindah-pindah rumah dan sekolah, mengikuti kedinasan ayahnya dari satu kota ke kota lain di sepanjang jalur kereta api di Pulau Jawa.
    Selain Kota Bandung, keluarga Kunto pernah tinggal di Rangkasbitung, Cibatu, Cianjur, Purwakarta, Tasimalaya, Gombong, Purworejo, Yogyakarta, dan Surabaya. Harry tergolong pemburu buku yang tekun. Lebih dari 30.000 koleksi bukunya sarat, berserakan memenuhi meja-kursi, dipan, lemari dan rak buku dalam rumah. Hobinya mengumpulkan mobil dan sepeda motor antik.
    Haryoto nyaris tak akan pernah menulis buku kalalu tidak secara kebetulan bertemu dengan W.J.W Purwadarminta dalam perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta. Anda mengenal W.J.W. Purwadarminta? Dia adalah penyusun kamus Bahasa Indonesia.
    Dalam perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1959, ketika ia berusia 17 tahun, Purwadarminta melihatnya sangat asyik dan tekun sekali membaca buku. Seolah-olah tidak ada dunia lain kecuali dunia yang tengah ia telusuri dalam bacaannya itu. Maka segera sang penyusun kamus mengajak berbicara dengannya. Purwadarminta meminta agar Haryoto Kunto jangan hanya membaca, tetapi menulis apa saja yang ada dalam benaknya sesuai kekayaan pikiran hasil dari membaca buku.
    “Tulis, tulis, dan tulis,… semua yang ada di benakmu. Jangan diamkan. Tulis, biar susunan kalimatnya kurang sempurna, tuilis saja, pasti kelak akan ada orang yang menyunting dan memanfaatkannya. Hary tidak langsung menulis. Baru seperempat abad kemudian ia menulis buku pertamanya berjudul : “Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe.” Buku tersebut diterbitkan oleh PT Granesia Bandung di Jalan Asia Afrika pada tahun 1984
    Buku Bandoeng Tempoe Doeloe adalah sebuah buku bermutu dengan gaya tutur yang sangat menarik, juga dengan bahasa yang ringan, lancar, penuh humor. Hasil penelitian jurnalistik yang teliti dan mendalam,diimbangi khazanah fakta-fakta sejarah yang berbobot tulis Keumalahayati dalam “Rehal” majalah Tempo 27 Oktober 1984.
    Buku Semerbak Bunga di Bandung Raya adalah buku kedua, juga diterbitkan oleh PT Granesia Bandung pada tahun 1986. Kedua bukunya menjadi buku sejarah berbobot. Begitu luas dan dalam pengenalannya tentang kota kelahirannya, sehingga rekan-rekannya menjulukinya sebagai “kuncen” – juru kunci – Kota Bandung.
    Sering kali dua buku karangan Haryoto Kunto menjadi referensi dalam berbagai tulisan yang temanya seputar kehidupan nonie-nonie di Hindia Belanda di tahun 1800-san. Nah, pada September 2014, saya kebetulan ingin menulis tentang Haryoto Kunto di Harian KarBek. Intinya, mengekploitasi kehebatannya dalam pengenalan akan sejarah masa silam Bandung khususnya dan umumnya Jawa Barat. Waktu mencoba menelusurinya, saya menemukan sebuah blog milik Santi J. N. Dia adalah seorang wanita, tinggal di Bandung. Lewat blognya, orang dapat mengenal siapa sesunngguhnya Santi J. N.
    Dalam blognya, ia menuliskan tentang dirinya ringkas saja.: “Namaku Santi Jehan Nanda. Terserah mau dipanggil Santi, Jehan atau Nanda, tapi aku lebih suka dipanggil Jehan. Panggilan itu lebih cocok untuk wanita seusiaku,” tuturnya.
    Jehan ingin mempersembahkan blognya kepada ibu dan ayahnya yang berjasa telah mewariskan hoby membaca buku. Jehan tinggal di Bandung, di sebuah rumah tua. Katanya, ia ditemani Minerva, kucing kesayangannya, beserta setumpuk buku-buku yang sudah buluk hasil koleksiannya.
    Kata Jehan, pada usianya yang tidak muda lagi ini, ia hanya ingin berbagi informasi seputar buku dan kisah sejarah yang dianggapnya menarik.
    Jehan tampak sedikit menyesal, karena ia tidak menggunakan kesempatan di masa mudanya untuk menulis. “Mengapa tidak sejak dulu aku mulai menulis, terus terang ini adalah akibat kebodohanku. Aku sangat menyesal. Baru sekarang aku sadari bahwa banyak membaca tanpa berbagi / menulis adalah sebuah dosa besar. Menimbun ilmu tanpa membaginya adalah sebuah kesia-siaan belaka,” kisahnya dalam blognya itu.
    Jehan mengakui bahwa dia bukan seorang penulis, malahan boleh dibilang ia adalah seorang penulis yang buruk. “Aku hanya seorang pembaca yang lapar, namun terlalu “lumpuh” untuk menulis. Maafkan segala keterbatasanku dalam menumpahkan pikiran ke bentuk tulisan. Aku bukan sastrawan dan bukan pula sejarawan. Semua posting dalam blog ini tidak lain hanyalah sekadar upayaku untuk menunaikan tanggung jawab sebagai seorang pembaca buku yang baik. Semoga semua tulisan bisa menjadi tambahan informasi untuk teman-teman sesama penggemar buku / sejarah. Ini adalah penebusan dosaku, semoga aku diberi kekuatan oleh Tuhan untuk tetap bisa berbagi,” paparnya lebih lanjut.
    Ternyata setelah menelusuri blog Jehan, perempuan ini sama hebatnya dengan Haryoto Kunto. Mungkin di sisi lain dia lebih hebat dari Haryoto Kunto, khsusnya terhadap minatnya pada buku-buku tua. Bila Anda menelusuri blognya, pasti akan Anda bertemu dengan buku-buku tua. Ada 99 tema atau buku yang diulas kembali oleh Jehan kemudian dibagikan kepada pembaca yang budiman. Mengenai hasil ulalsannya untuk buku-buku koleksinya, akan ditulis pada kesempatan lain berikutnya. (Michael Tani Wangge)

    1. Waduh.. aku merasa terhormat sekali… sebenarnya aku merasa belum pantas untuk diangkat dalam media seperti ini, masih banyak kekurangan dalam tulisan dan diriku untuk bisa disejajarkan dengan Haryoto Kunto atau penulis lainnya… Aku tidak bertanggung jawab apabila ada pembaca yang kecewa setelah mengetahui hal yang sebenarnya ya.. hehe

  30. Bu Jehan perkenalkan saya seorang penyuka sejarah, sangat suka membaca mengenai sejarah.saat ini saya sedang tertarik mendalami kembali sejarah Bandung, dan mencoba mengumpulkan buku dan artikel berkaitan hal tersebut. Setelah menelusuri internet sampailah ke blog ini. Alhasil ketertarikan saya semakin bertambah setelah membaca beberapa tulisan bu Jehan, apalagi dari beberapa sumber yang ibu referensikan merupakan sumber sumber yang cukup bagus.
    Untuk langkah pertama, saya mencoba untuk mendalami mengenai sejarah pemakaman dan makam orang orang yang berkaitan dengan sejarah bandung. akan tetapi sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi yang cukup mengenai keluarga Ursone, anna maria de groote dan banyak lagi. sekiranya ibu memiliki sumber dan informasi tersebut mohon kiranya ibu dapat berkenan membantunya. saya ucapkan terima kasih sebelumnya.

    1. Sumber2 sejarah mengenai makam-makam tua di Bandung memang agak sulit ditelusuri karena keterbatasan referensi… Mohon maaf sampai sekarang aku juga belum memiliki info memadai mengenai makam-makam di Bandung tersebut, kecuali bahwa dulunya keluarga Ursone merupakan pengusaha ternak yang cukup sukses di Lembang. Sedangkan mengenai anna maria aku belum tahu banyak.. Terima kasih juga sudah berkunjung ke blog ini.. Salam..

  31. ass wr wb bu…..perkenalkan saya arief prabowo…..pencinta sejarah….pernah tinggal di bandung (kuliah) kerja di BUMN Surabaya….mohon info…ibu tinggal dimana di bandung….wassala, wr wb

  32. Halo Ibu Santi. Saya pertama kali mendarat di blog ibu. Kata kunci saya adalah “Kebangsaan Junghuhn”. Dua kata yang menuntun saya ke dalam lembaran sejarah lainnya di blog ini. Saya tertarik dengan dunia sejarah sejak semasa sekolah dulu. Ketika kuliah saya memilih jurusan Ilmu Perpustakaan dan Ilmu Sejarah. Saya diterima di jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia. Saya senang dapat ikut melestarikan sejarah dengan belajar merawat buku-buku. Walaupun tak dapat menjadi seorang sejarawan tapi saya dapat menyuplai bahan-bahan untuk menulis sejarah.

    Saya membaca artikel ibu tentang Junghuhn untuk referensi saya menulis cerpen. Terima kasih bu. Semoga koleksi buku-buku tuanya tetap awet. Jangan lupa koleksi-koleksi buku-buku ibu diletakkan di tempat yang bersuhu sejuk. Semoga kapan waktu bisa berkunjung ke perpustakaan ibu. Salam hormat.

    1. Salam hormat juga. Waduh menarik sekali ilmu yang anda geluti. Minat yang kita miliki tampaknya sama, tapi kayaknya anda lebih beruntung karena bisa bergaul dengan lebih banyak buku-buku. Syukur apabila tulisanku bisa bermanfaat. Sebetulnya aku agak jorok dalam memperlakukan buku-buku koleksi, tapi tampaknya belum terlambat untuk mengikuti usulan anda… Amiin, semoga nanti ada kesempatan…

  33. Salam,

    Perkenalkan saya Sam Ardi dari Malang, saya membaca tulisan bu Jehan soal Freemasonry dan mendapati buku-buku koleksi dari bu Jehan yang berbahasa Belanda digunakan dalam menulis artikel. Dapatkah saya fotokopi buku-buku tersebut persis seperti buku aslinya? Saya pernah menulis di blog soal Freemasonry di https://samardi.wordpress.com/2012/08/15/organisasi-terlarang/ dan https://samardi.wordpress.com/2012/08/30/organisasi-terlarang-bagian-2-tamat/ Terima kasih jika berkenan. Ini email saya sam@arema.web.id dan twitter saya @sam_ardi

    1. Salam kenal juga Mas Ardi… Beberapa buku berbahasa Belanda itu sebenarnya agak rapuh untuk discan atau dicopy, tapi akan kuusahakan. Aku sudah baca tulisannya, menarik dan objektif dalam melihat Freemasonry.

  34. Salam kenal Buk Jehan,

    Saya pencinta koleksi buku buku lama yang bertemakan perjuangan, sangat susah sekali mencari buku-buku dipasaran, beberapa saya sudah punya… Buk Jehan bisa lihat beberapa koleksi saya di situs kolektorsejarah.wordpress.com.

    Melengkapi koleksi yang sudah ada, apa saya diperbolehkan untuk mengcopy buku-buku yang Buk Jehan miliki seperti kisah Pasukan Siliwangi dan buku lainnya? saya bersedia mengganti biaya copy, kirim dan jasa photocopy nya.

    Terima kasih banyak Buk Jehan jawaban Ibuk sangat berarti bagi saya.

    Wassalam

    1. Salam kenal juga Mas, tampaknya kita memiliki minat yang sama. Beberapa buku bisa saya copy-kan, tapi mohon maaf untuk beberapa buku tua atau langka sepertinya belum memungkinkan. Harap dimaklumi. Aku sudah mengunjungi situs milik mas kolektor, isinya bagus sekali, semoga diberi kesehatan untuk terus menulis dan berbagi hikmah. Salam…

  35. Dear Ibu Santi J N,
    Terimakasih untuk Blog-nya..yg membuat saya bertambah wawasan..sebagai Generasi Muda..ini masukan inspiratif dan menghargai Sejarah..salam Kenal..semoga Ibu Selalu Sehat dan Terus aktif Berkarya dgn tulisan-tulisan yg menggugah semakin “cinta Indonesia”..GBU…☺

    1. Salam juga Mas Pramana… Terima kasih atas kunjungannya dan syukur apabila tulisanku bisa bermanfaat.. Semoga mas juga tetap sehat dan bisa terus berkarya… amiin

  36. Yth.Ibu Jehan
    Salam kenal bu, saya Cicilia sarjana pend.Sejarah. sekarang saya mengajar di salah satu SMA di Surabaya. Saya sangat senang membaca tulisan di Blog ibu, dari blog ini selain belajar banyak untuk diri saya sendiri saya juga mendapatkan berbagai pengetahuan untuk saya sharingkan pd murid2 saya. terimakasih banyak. terus berkarya Ibu. GBU :)

    1. Salam kenal juga Mbak Cicilia… Terima kasih atas apresiasinya, aku juga senang sekali kalau tulisan-tulisanku bisa bermanfaat untuk banyak orang… Semoga makin sukses ya karir dan murid-muridnya, Amiin..

  37. Saya baru kemarin menemukan situs ini, senang sekali krn says sangat gemar membaca sejarah/berita tempo duly. Semoga Situ’s and a dpt memberikan pencerahan kpd generasi muda sekarang terutama dgn berita berita dari situ’s yg memutar balikkan sejarah seperti ttg kontraversi ttg lahirnya pancasila.

  38. Sebagai penggemar sejarah, saya senang membaca blog Ibu Jehan. Banyak kisah yang bisa saya dapatkan dari buku-buku lama yang menjadi koleksi Ibu. Bahkan menjadi rujukan tambahan dalam proses menulis yang saya lakukan. Terima kasih banyak sudah berkenan berbagi kepada kami yang muda-muda ini.

  39. Bu Santi Jehan yth., setelah membaca cerita kunjungan Sam Po Kong yang menarik, ini tahu apakah Ibu memiliki itu buku Kam Seng Kioe: Sam Po terbitan 1955 tersebut? Karena saya sedang menyidiki asal sumber dari mana orang Semarang pada percaya bahwa Sam Po Cheng Ho pernah mendarat disana. Mohon sudi menjawab, banyak terima kasih.

  40. Selamat berkenalan ibu (maaf saya panggil ibu karena kata ‘ibu’ terkesan lebih hangat ), saya salah satu tamu yang baru di blog ini. :)

  41. Berkesan sekali ibu…saya tergila-gila dengan sejarah sekarang…(apalagi cerita tentang Bung Karno)

  42. salam buk santi jehan..,saya sangat senang membaca tulisan ibuk di blog ini mengenai sejarah..,kebetulan blog ini nemu sewaktu saya brosing untuk mencari tentang tewas nya jendral malaby…
    ..,ibuk kalao bisa di bikin juga dong tulisan mengenai kisah tentang surat supersemar yang sampai saat ini masih misteri tentang ke aslian nya..!!??

  43. Bu Jehan,
    Saya tertarik dengan sejarah keluarga Kolopaking. Karena sepertinya nama keluarga ini jarang digunakan oleh keturunan Kolopaking.
    Apakah ada informasi mengenai silsilah trah ini?
    Jika diijinkan bolehkan saya menghubungi Bu Jehan via secara japri via email? Karena ada hal tidak bisa saya sampaikan di media umum.
    Terima kasih.

    1. Untuk mengenal sejarah keluarga Kolopaking bisa ditelusuri hingga tokoh Ki Ageng Mangir yang dimakamkan di Kota Gede. Menurut informasi kuncen di sana, dari tokoh Ki Ageng Mangir inilah lahir keluarga keturunan yang ber-marga “Kolopaking”…

  44. Salam kenal bu santi kakek buyut saya namanya juga haji hasan mustapa persis tulisannya sama, saya belum pernah bertemu beliau bahan kakek saya bernama sukmawijaya entah dulunya waktu lahir itu atau bukan adalah anak satu satunya dari haji hasan mustapa meninggal di pengungsian waktu bandung lautan api tahun 1946 jadi sejarah agak buram, sukmawijaya punya anak 13 orang semua sudah meninggal ayah saya sering cerita ttg kakeknya tapi kurang mengetahui beliau penghulu atau bukan, ayah saya baru wafat bulan juni 2015 usia 80 tahun. Bukti nama kakek buyut saya ada pada surat waris.apakah ada dua nama haji hasan mustapa di bandung? terimakasih bu.

  45. Salam kenal bu Santi. Baru hari ini saya menemukan situs ini. Sudah agak lama mencari tulisan tentang Mohammad Toha. Sekitar tahun 1957 pernah membacanya di Majalah Minggu Pagi yang ditulis oleh Bapak Dayat Hardjakusumah. Kali ini baru menemukannya lagi dan ternyata lebih lengkap. Saya merasa sangat beruntung dan berterima kasih kepada bu Santi.

    1. Sama2 pak, terima kasih juga atas informasinya. Memang agak sulit menemukan tulisan lengkap mengenai Muhammad Toha. Tulisan ini pun kurasa masih kurang lengkap…

  46. Hai, Bu Jehan…
    Saya terdampar karena tulisan ziarah di Jogja dan nagih baca lainnya. Tulisan Amangkurat bikin saya tergerak main ke soping cari buku2 itu :)

    Oiya, kalau boleh tahu, apa ada alasan tertentu lambang Loge Sumur Bandung mirip logo freemson? Maaf salah fokus, maklum penasaran ^^

    1. Halo juga Putri, iya baiknya sering2 main ke shoping siapa tau menemukan “harta karun”. Mengenai logo itu memang mirip lambang Mason, jangka/kompas itu melambangkan kehidupan “akherat”, bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini harus berorientasi pada kehidupan akherat.

  47. Siang mbak santi,
    Saya yanti dari LBH Jakarta. Mbak, apakah saya bisa mendapatkan fotokopi buku yag mbak posting di blog ini? Khususnya kasus sawito yang pernah LBH Jakarta tangani? Saya akan hubungi mbak santi via telepon. Terima kasih

  48. Dear Jehan, unfortunally i’m not able to read bahasa indonesia, so I don’t understand much of what you are doing. But I did love to see the pictures and I love that you are conservating those books. somehow i crossed these pages was curious about the mason logo and the tekst from Bilderdijk you are using in the head of the blog.
    Kind regards from Haarlem (where Bilderijk is burried) the Netherlands

    Herman Kolkman

    Geachte mevrouw/mijnheer Jehan, jammergenoeg ben ik niet goed in staat om uw taal te lezen, ik ken slechts een paar woorden Indonesisch, maar ik ben verguld dat u voor ons deze boeken laat behouden voor het nageslacht. Al bladerend op het internet stuitte ik bij toeval op uw pagina en ik was nieuwsgierig geworden door het logo van een vrijmetselaarsloge en de tekst van Bilderdijk in de titel van de pagina’s. Ik heb in ieder geval zeet genoten van de mooie foto’s.

    Met vriendelijke groeten en Br∴ groeten uit Haarlem,

    Herman Kolkman

    1. Dear Mr. Kolkman, thank you for the appreciation. What im doing here is just interpret some books, just for sharing the information to others. Somehow, the quote from Bilderdijk is so suitable for my blog’s purpose, to actualize history of our nation. The mason logo has nothing to do with me or my blog, but i do have a huge interest about the masonic history.

      Warm regards from Bandung.

  49. Salam kenal bu Jehan….
    Sy IDWAR ANWAR, kebtulan lagi cari info tntng buku 200 icon Bandung, eh, malah nyampe di sini…. bahkan tertarik dgn bbrp buku yng di resensi…
    Bagaimana sy bs mendaptkan buku2 yg ibu resensi?

    Salam
    IDWAR ANWAR

    bbm : 7c620e0f
    id line : idwaranwar
    wa : 0896-4448-4485

  50. Hi Bu Jehan,

    Tidak sengaja menemukan blog ini dan saya tertarik sekali dengan isinya. Saya kebetulan sedang banyak membaca tentang Junghuhn dan tampaknya ibu memiliki buku catatan Junghuhn selama di Hindia Belanda. Kalau mau pinjam apakah bisa didapatkan Loge Sumur bandung ya?

    Latar belakang saya sebagai geologist yang suka sejarah belakangan membawa saya kecatatan-catatan lama para eksplorer di Indonesia tempo doeloe.

    Terimakasih.

  51. Ibu Jeihan yang saya hormati. Tidak sengaja saya membaca website Ibu. Saya salut ibu telah menyimpan buku-buku ibu, membentuk dan mengelola ‘santijehananda.com’, bahkan sudah bekerjasama dengan ‘Sumur Bandung’, sehingga masyarakat bisa ikut menikmatinya.
    Perkenalkan. saya Mahfud, mengoleksi beberapa buku yang sudah langka agar buku tidak jalan-jalan ke ‘negeri sebrang’ (semampu saya).
    Kalau ada waktu luang silahkan berkunjung ke ‘mmzrarebooks.blogspot.com’
    Wassalam

    1. Pak Mahfud, aku selama ini juga menggemari situs bapak.. Terus terang bapak aku terinspirasi dari Pak Mahfud juga lho.. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini..

  52. Yang terhormat Bu Jehan,

    Saya Hendaru, jurnalis lepas di Jakarta dan Depok. Saya mengunjungi situs ini secara tak sengaja ketika sedang mencari foto-foto sidang Konstituante. Dan ketika melihat situs lebih jauh, saya kagum melihat usaha Bu Jehan merawat sejarah dan menyambung masa lalu dengan masa kini. Bu Jehan bukan hanya menghadirkan foto, tapi juga memberikan beberapa penjelasan mengenai sejumlah peristiwa bersejarah, baik itu dari orang besar maupun orang kecil (seperti kisah pencopet legendaris di Jakarta).

    Bersama kawan-kawan di Depok, saya sedang membangun situs media nirlaba. Salahsatu kanalnya nanti memuat artikel sejarah. Saya ingin memohon izin pada Ibu Jehan untuk menggunakan beberapa foto di sini untuk melengkapi tulisan. Tentunya dengan menyebut sumber foto. Oya, apakah perpustakaan Loge Sumur Bandung dibuka untuk umum?

    Atas perhatian dan jawaban Ibu Jehan, saya ucapkan terimakasih. Semoga sehat selalu.

    Salam,

    Hendaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *