Menggali Hatta

Image

Dalam sejarah bangsa ini, menurutku tidak ada tokoh negarawan lain sebesar Bung Hatta. Beliau menjalankan hidupnya tanpa cela. Seorang yang paling berhasil memadukan logika dan hatinya agar bisa terus bertahan dalam tiga masa sejarah Indonesia  (Kolonial, Orde Lama dan Orde Baru). Seorang Pancasilais yang agamis ujar beberapa tokoh. Daya analitiknya begitu tajam, jarang ada prediksi politiknya yang terbukti salah. Ia selalu disandingkan dengan Bung Karno, namun menurutku Hatta lebih besar dari Soekarno.

Buku ini merupakan satu dari banyak buku yang menggali pemikiran Bung Hatta. Bung Hatta Menjawab, terbitan Gunung Agung tahun 1978 adalah buku yang diterbitkan dalam rangka memperingati 76 tahun Bung Hatta. Merupakan kumpulan wawancara yang dilakukan  Dr. Z. Yasni dan Dasjaf Rachman terhadap Bung Hatta selama setahun lamanya.

Buku ini sangat menarik, apabila dilihat dari konteks penerbitannya yang berada dalam rezim orde baru. Tema-tema wawancara tidak jauh dari jargon-jargon orde baru yang khas seperti bahaya laten komunisme, koperasi, Bhineka Tunggal Ika, Isu Timor-timur dan lain-lain. Bagian yang membahas Komunisme merupakan bagian yang paling menarik dari buku ini. Bung Hatta merupakan satu tokoh yang paling mencurigai gerakan Komunisme dalam perjalanan sejarah Indonesia. Ia menurutku akan sangat gelisah melihat anak-anak muda sekarang yang sok kekiri-kirian tanpa mengetahui jati diri komunisme yang sesungguhnya. “Komunisme hanya akan lahir dari kemiskinan”, ujarnya dalam buku ini. “Oleh karena itu, untuk menghilangkan komunisme, hendaknya harus dilakukan dengan menghilangkan kemiskinan”.  Hatta tampak mengkritik kebijakan orde baru yang memerangi komunisme dengan kekerasan  namun tidak berusaha menghilangkan akar dari Komunisme. Kesenjangan sosial dan ekonomi yang terlalu curam menurutnya adalah bibit munculnya komunisme.

Komunisme sendiri adalah satu faktor yang memisahkan Dwi Tunggal Soekarno – Hatta. Pasangan yang membimbing bangsa ini melewati masa-masa tersulitnya. Louis Fischer menggambarkan kesempurnaan pasangan ini sebagai “Soekarno is the artist, Hatta is the engineer. Soekarno soars on the wings of his imagination. Hatta’s feet are firmly implanted int he earth. Soekarno’s one book, entitled Sarinah deals with the rights of women; Hatta’s book is entitiled The Co-operative Movement in Indonesia. Soekarno loves  the palace game of politics, hatta prefers the university lecture hall. Soekarno is the mystic magician, Hatta the hardheaded diagnostician. Soekarno is carefree and flexible, Hatta has the stubbornness of a Dutchman. Soekarno is Java, Hatta is Sumatra. The Republic needs both”. Negeri ini membutuhkan kedua tokoh tersebut agar berada dalam keseimbangan. Begitulah negeri ini bergerak menuju kehancuran ketika Soekarno memilih  menggandeng komunisme dan melepas Hatta. Pemberontakan PRRI/Permesta pun tidak dapat menyatukan kembali Dwi Tunggal. Tanpa Hatta, Soekarno kehilangan akal sehat. Aidit menjadi anak emasnya. Peringatan Hatta akan tipu daya komunis tidak dipercaya Soekarno. Seperti yang seringkali terjadi, prediksi Hatta tidak pernah salah. Soekarno jatuh akibat kedekatan hubungannya dengan komunisme.

Komunisme dan tokoh-tokohnya memang lebih banyak menyulitkan bangsa ini dalam sejarahnya. Aku yakin ada yang tidak setuju terhadap pendapatku ini, tapi aku sejalan dengan Hatta. Pembantaian PKI yang dilakukan orde baru memang merupakan suatu kejahatan serius, namun Hatta dalam buku ini tampak diplomatis dengan mengatakan bahwa kondisi tersebut tidak lain diakibatkan oleh tindakan PKI yang gegabah menyerang jantung TNI dan membunuh tokoh – tokoh agama di masyarakat. Pemuka NU di Jawa Timur pernah menyatakan bahwa mereka akan membunuh 10 orang PKI untuk setiap ulama yang dibunuhnya. Hatta menyatakan bahwa hampir mustahil untuk mencegah amarah TNI dan rakyat  terhadap PKI saat itu.

Demikian rangkaian pemikiran Hatta yang sudah sepuh tetap menunjukan ketajamannya.  secara Pada bagian terakhir wawancara, terdapat pernyataan yang sangat menyentuh hatiku.

Tanya : Apa alasan Bung Hatta tidak mau dimakamkan di Taman Pahlawan ? Kalau pemerintah negara dan seluruh rakyat menghendakinya ?

Jawab : Tidak. Saya ingin dikubur di kuburan rakyat biasa. Saya adalah rakyat biasa.

Betapa besar jiwa Hatta.

Buku ini sangat menarik bagi teman-teman yang ingin menggali pemikiran Hatta terkait isu-isu khas Orde Baru dan pengalaman-pengalaman beliau yang tidak terdapat di buku sejarah lainnya, Selamat berburu.

Image