Perjuangan Merintis PSSI

1

“Djanganlah sombong dikala menang,
djanganlah malu karena kalah,
menang kalah tetaplah berdjoang,
berusaha dan berlatih dengan hati tabah!”  -Maladi-

Aku tentu saja bukan seorang penggemar olahraga sepakbola. Entah mengapa padahal ayahku adalah penggemar berat olahraga tersebut. Walau demikian, aku tetap menganggap olahraga ini sebagai salah satu peninggalan perjuangan masa kolonial yang layak dipertahankan dan terus dikembangkan.

Sebagai seorang awam, aku melihat sepakbola sebagai sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat di negeri ini. Senang sekali melihat anak-anak bermain sepakbola di sudut-sudut kota. Jauh lebih baik daripada melihat mereka bergumul dengan monitor komputer di pusat-pusat game online. Keduanya sama-sama memberikan tantangan dan kesenangan, bedanya yang pertama mengajarkan rasa sakit yang asli. Terjatuh, tersandung, dan terpelanting ketika membawa bola itu sakit. Tapi dari sana anak-anak itu belajar merasakan dan menghadapi kenyataan.

Lebih jauh lagi, dalam sejarahnya perkembangan sepakbola di tanah air sangat erat hubungannya dengan patriotisme. Lewat olahraga ini, kaum pribumi hendak melawan kekuasaan kolonial yang jauh dari aspek keadilan sosial. Potongan sejarah hingga perkembangannya pasca kemerdekaan itu setidaknya dikemukakan dalam buku “25 Tahun PSSI” terbitan PSSI tahun 1955 (dicetak oleh Visser). Sebuah buku yang layak dijadikan refleksi bagi semua yang terlibat dalam carut marut pengelolaan salah satu organisasi nasional tertua ini. Selain itu, para suporter yang terlalu fanatik layaknya mengetahui sejarah pendirian PSSI agar jangan sampai dukungannya terhadap suatu klub berlawanan dengan cita-cita para perintis sepakbola negeri ini.

2
Pengurus PSSI tahun 1955

Dalam pengantarnya, Maladi, ketua PSSI saat itu, telah mengingatkan bahwa memelihara keberlangsungan organisasi adalah tantangan yang sesungguhnya.

Ada pepatah yang mengatakan, bahwa mencapai ssuatu adalah sulit dan lebih sulit lagi ialah untuk memlihara apa yang telah dicapainya itu. Tetapi yang paling sulit adalah menguasai diri sendiri guna memelihara dan mengembangkan hasil-hasil yang telah dimilikinya itu. Sasaran utama dari perjuangan PSSI di masa sebelum perang adalah untuk menguasai sepakbola di seluruh Indonesia. Sasaran itu tercapai. Sejak tahun 1951 tidak lagi organisasi sepakbola kecuali PSSI dengan segenap anggota-anggotanya, yang mengatur dan mengurus persepakbolaan di Indonesia.

Tujuan berikutnya adalah melangkah keluar memasuki gelanggang internasional. Tujuan itupun telah tercapai dengan diterimanya PSSI menjadi anggota Federasi Sepakbola sedunia yaitu FIFA. Kemudian kita berhasil untuk membuktikan, bahwa kita sanggup menandingi kesebelasan-kesebelasan di Asia dengan baik. Pun kita pernah pula mengalahkan beberapa kesebelasan yang datang dari Eropa.

Kita boleh merasa gembira dan bangga atas hasil-hasil yang telah kita capai itu, yang menunjukan garis meningkat dalam perjalanan kita. Kita ingin terus maju sampai kita mencapai kedudukan yang sederajat dengan kesebelasan yang terkuat di dunia.

Melihat harapan besar itu, Para perintis PSSI pasti menangis melihat keadaan persepakbolaan kita sekarang, dimana sejak 60 tahun yang lalu belum ada peningkatan prestasi signifikan akibat buruknya pengelolaan persepakbolaan. Kita mungkin sering mendengar lelucon yang menyebutkan bahwa “Masa sih mencari 11 orang pesepak bola berkualitas dari 200 jutaan rakyat saja tidak bisa?”. Kita bisa berdebat panjang tapi begitulah kenyataannya. Lalu apa penyebab persepakbolaan kita tidak maju-maju. Mungkin sesuai dengan peringatan Maladi bahwa :

Hasil-hasil kita akan sangat mengecewakan, apabila kita menyampingkan disiplin organisasi, disiplin keolahragaan, disiplin permainan dan terutama dispilin pribadi, yang disebabkan karena kita beranggapan bahwa dengan tiada dipilin yang bermacam ragam itu, kitapun bisa mencapai tingat yang tinggi.

Pernyataan Maladi di atas didasarkan pada kenyataan bahwa pendirian dan perintisan PSSI menuntut berbagai disipilin itu agar bisa bertahan. Berikut cuplikan sejarah PSSI seperti dikenang oleh Maladi dalam pidatonya tanggal 19 April 1955 yang dimuat dalam buku ini.

PSSI lahir dalam keadaan dan suasana yang sesungguhnya tidak menguntungkan. Tahun-tahun sekitar 1926 adalah saat-saat yang tidak memberikan kelonggaran kepada bangsa Indonesia untuk mengadakan organisasi-organisasi yang bersifat kebangsaan. Apa saja yang bersifat dan berbau kebangsaan waktu itu dilarang atau mendapat rintangan-rintangan dari pemerintah yang berkuasa, yaitu pemerintah Hindia Belanda. Dapatlah dibayangkan, rintangan apakah yang akan dihadapi oleh PSSI yang terang-terangan menyatakan dirinya sebagai organisasi kebangsaan. Baik namanya, maupun azas tujuannya “Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia” melukiskan hasrat kebangsaannya dengan tiada tedeng aling-aling. Dengan ukuran-ukuran material belaka, harapan PSSI untuk dapat hidup memang sangat kecil.

Tetapi dengan ukuran-ukuran yang berdasarkan faktor moral-spiritual, lahirnya PSSI pada masa itu sangat menguntungkan. Justru karena tekanan yang semakin hebat, semakin hebat pula berkobar semangat kebangsaan. Dan berkobarnya semangat kebangsaan inilah yang memberikan kekuatan dan keberanian serta kepercayaan diri sendiri para pemimpin PSSI untuk menetapkan langkahnya.

3a
Para Pendiri PSSI (Di tengah adalah Soeratin)

Pada waktu PSSI dilahirkan, tidak ada di pikiran rencana-rencana muluk-muluk dan perhitungan njelimet-njelimet. Yang ada hanya kemauan yang keras dan tekad yang ulat untuk mengorganisasi segenap potensi bangsa Indonesia dalam gerakan sepakbola. Itulah modal pertama PSSI. Organisasi yang waktu itu menguasai dunia sepakbola di Indonesia yaitu NIVB, tidak menganggap PSSI secara serius atau “ernstig”, karena PSSI tidak mempunyai lapangan-lapangan dan pemain-pemain yang baik.

Pertandingan-pertandingan PSSI tidak akan mendapat perhatian masyarakat dan dengan sendirinya akan mati, begitulah perhitungan NIVB.

Memang dalam tahun-tahun pertama pertama pertandingan-pertandingan PSSI tidak mendapat pasaran, karena penonton lebih suka melihat pertandingan-pertandingan NIVB. Pun tidak bangak pemain bangsa Indonesia yang baik-baik yang sudi menerjunkan dirinya dalam lingkungan PSSI. Mereka lebih suka untuk main dalam gelanggang NIVB. Sejalan dengan pernyataan Ir. Soeratin yang diungkapkan dalam resepsi sewindu PSSI tanggal 3 Juni 1938.

Kalau kami menengok ke belakang, bolehlah kami mengucap syukur, sebab dari semua kejadian, baik yang pahit, pedas dan getir, maupun yang manis, sedap dan nyaman, kami dapat menarik pelajaran yang amat berharga. PSSI telah melewati dua tingkatan masa : 1. Zaman penghinaan dan perendahan. 2. Zaman kekanak-kanakan.

Di dalam zaman yang pertama, PSSI mengalami penghinaan dan perendahan yang sehebat-hebatnya. Terutama kaum PSSI tentu tidak lupa pada sikap almarhum NIVB dan pihaknya. Kami tidak diakui sebagai pucuk pimpinan voetbal sendiri. Kami dihina, dipandang rendah, dikatakan tidak sanggup mengatur dan memimpin pemuda bangsa kita sendiri. Kami hanya dipandang melakukan “kinderspel“.

Tetapi anehnya, oleh setengah pers pihak almarhum “Midden Java“, PSSI dipandang berbahaya… Kami dituduh yang bukan-bukan.

Seperti yang telah kami terangkan tadi, penghinaan dan perendahan, atau bagian dari rintangan dan gangguan itu, sudah kita ketahui bakal datang menimpa. Maka setelah tiba, kitapun tidak goyang pendirian. Akhirnya : “De Waarheid Overwint !” Pihak yang menghina dan merendahkan kita, tertikam oleh perbuatannya sendiri.

Dalam tahun-tahun pertama itu tidak banyaklah di antara bangsa Indonesia yang menaruh harapan pada PSSI. Tetapi dugaan dan perhitungan mereka itu salah. Mereka lupa, bahwa sepakbola menjadi permainan rakyat. Mereka lupa, bahwa sebagian besar dari pemain-pemain bangsa Indonesia berdiri di luar NIVB. Mereka lupa, bahwa PSSI mempunyai daerah yang lebih luas dan tanah yang lebih subur. Soalnya adalah apakah PSSI mempersatukan tenaga-tenaga itu dan dapatkah PSSI menaburkan benih-benih persatuan dalam tanah yang subur itu. Hanya merekalah yang mempunyai keyakinan yang teguh dan pandangan jauh ke depan, dapat melihat semua itu.

Tujuh tahun lamanya para pengasuh PSSI harus membina bayi PSSI dengan segala kesabaran, kecintaan, keikhlasan, dan penderitaaan, sebelum bayi itu menjadi pemuda yang kuat.

3
Upacara Pembukaan Stadion Sriwedari di Surakarta tahun 1933 yang dihadiri Pengurus PSSI, diramaikan pertandingan PSIM dan PERSIS

Tahun 1937 merupakan tahun yang bersejarah bagi PSSI.. Mengakui akan kekuatan PSSI maka NIVB yang berubah menjadi NIVU akhirnya mengulurkan tangannya kepada PSSI untuk mengadakan kerja sama. Ajakan NIVU itu diterima PSSI dengan hati terbuka. Kerja sama PSSI dengan NIVU diletakkan dalam sebuah perjanjian pada tanggal 15 Januari 1937 yang terkenal sebagai Gentleman’s Agreement. Artinya perjanjian antara orang-orang ksatria.

Modal pertama PSSI berupa keyakinan dan kemauan yang didukung oleh rasa persatuan telah dapat melahirkan modal yang kedua : kekuatan.

Kekuatan itu kemudian menimbulkan penghargaan dan pengakuan masyarakat akan hak hidup PSSI. Nama PSSI tidak lagi diucapkan dengan agak meremehkan, tetapi dihormati dengan penuh kesayangan dan kebanggaan. Jalan yang sempit dan berduri serta penuh rintangan telah dilalui dengan selamat dan terbentanglah di hadapan PSSI jalan raya yang lebar dan rata.

Pelajaran apakah yang dapat kita ambil dari sejarah itu ? Kekuatan apakah yang dimiliki PSSI sehingga dapat bertumbuh dengan subur dan menjadi organisasi yang kuat ? Jawaban satu-satunya adalah ” jiwa persatuan dan semangat kebangsaan.

…Maka sudah pada tempatnya pula kita pada saat ini memperingati jasa-jasa para pelopor dan pemimpin PSSI di masa lampau. Dari usaha merekalah kita sekarang memetik buahnya… Mereka adalah :

  1. Sdr. Ir. Soeratin Sosrosoegondo, Ketua PBPSSI yang pertama.
  2. Sdr. Dr. Kartono, Ketua PBPSSI yang kedua.
  3. Sdr. Daslam Hadiwasito, Wakil Ketua PBPSSI 1930-1935.
  4. Sdr. Mr. A. Kasmad, Wakil Ketua PBPSSI 1935-1940.
  5. Sdr. Moh Amir Notopratomo, Penulis.
  6. Sdr. H. Anwar, Bendahari.
  7. Sdr. H.A. Hamid, Pengamat.
  8. Sdr. H. Moeridan, Pemimpin Pertandingan.
  9. Sdr. Hadisoenarto, Penulis.
  10. Sdr. Hadiwijoto, Bendahari.
  11. Sdr. Soedarjo Tjokrosisworo, Perganda.
  12. Sdr. Reksosoemarto, Pemimpin Pertandingan.
  13. Sdr. Saronto.
  14. Mr. Widodo Sastrodiningrat.
  15. Soetardi Hardjoloekito, Penulis II.
  16. Mr. Dr. Koesoemaatmadja.
  17. Saudara-saudara lain bekas anggota pengurus besar, komisaris dan konsul PSSI serta smua anggota-panggota pengurus Bond anggota PSSI.
6
TIM PSSI menuju Asian Games di Manila 1954

*****

Selain berisi sambutan-sambutan yang diantaranya diungkapkan Ketua PSSI Maladi, Presiden Soekarno,Menteri PP dan K, serta Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku Ketua Panitia Besar Perayaan Kongres PSSI Seperempat Abad, Buku kenang-kenangan 25 tahun PSSI juga berisi sejarah perkembangan PSSI di tiap-tiap provinsi/kota. Informasi menarik tentu saja berkaitan dengan perkembangan Persib, tim sepakbola kesayangan rakyat Jawa Barat, hubungannya dengan PSSI. Selain itu terdapat pula banyak dokumentasi seputar perkembangan sepakbola negeri ini sejak zaman kolonial.

Pada bagian lain buku, disebutkan pula kisah-kisah unik seputar perkembangan PSSI di masa lalu. Seperti berikut :

Di waktu lahirnya, 19 April 1930, PSSI ada yang mengartikan Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia. Sebaliknya ada juga yang mengatakan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Suatu perkumpulan di Solo, yang boleh dikatakan termasuk perkumpulan tua, dahulu selalu menyediakan “masseur” yang lebih tepat disebut tukang pijat. Tetapi bagaimanapun juga, “ndara mayor” ini soal mengobati kaki keseleo memang mustajab betul. Dokter di lapangan tidak ada, tetapi tukang pijat selalu mengikuti kemana saja kesebelasannya bertanding…

Gawang, di jaman dahulu dipandang terpenting. Terutama di jamannya “kiper Maladi”, banyak pemain ingin menjadi “gool”. Dan biasanya anak-anak kecil sama gerombol di belakangnya, gandolan jaring…

Melempar potongan es, jeruk keprok, atau jeruk pecel (sambal), ke dalam lapangan di jaman dahulu sudah biasa. Dan tukang lempar ini merasa bangga betul…

Penjaga garus kadang-kadang memakai celana dan jas komplit, malah ada kalanya orang memakai mantel. Pernah kami saksikan juga penjaga garis itu kainnya diatur rapih seperti hendak ke kawinan.

Di waktu dulu nama-nama perkumpulan sepakbola kadang-kadang lucu, umpamanya “De Leuw“, “De Elf Zwaluwen“, di Solo, “De Bruinen” di Jakarta, “Stormvogels” di Magelang, “Koetamaja” di Bandung, “Remmen en aanvallen” di Semarang, dll. yang lucu lagi, tetapi yang meudian nama-nama Belanda itu diganti dengan nama-nama Indonesia. Adapun nama-nama perserikatan yang pertama kali menjadi anggota PSSI adalah :

  1. Persatuan Sepakraga Indonesia Mataram (PSIM)
  2. Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB), kini Persija.
  3. Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ), kini Persija.
  4. Persatuan Perkumpulan Sepakraga Magelang (PPSM), kini PSM.
  5. Persatuan Sepakraga Madiun (PSM), kini PSM.
  6. Persatuan Sepakraga Indonesia Bandung (PESIB), kini PERSIB.
  7. Persatuan Sepakraga Indonesia Semarang (PSIS).
  8. Persatuan Sepakraga Indonesia Djombang (PSID).
  9. Persatuan Sepakraga Indonesia Malang (PSIM).
  10. Persatuan Perhimpunan Voetbal Indonesia Mr. Cornelis (PPVIM) kini tergabugn dalam Persija.
  11. Persatuan Sepakraga Indonesia Salatiga (PSISA).
  12. Perikatan Sepakraga Tasikmalaya dan Sekitarnya (PSTS).
  13. Perikatan Sepakraga Indonesia Surakarta (PERSIS).
5
Pertandingan PERSIB melawan PSIM tahun 1932 di Bandsung, dimenangkan 2-1 oleh PSIM.