Jakarta : Hanya untuk Mereka yang Berhati Kuat

Untitled-1

Dengan adanya kebiasaan asimilasi dalam hidup mereka, maka hingga kini rakyat Jakarta mewarisi sifat-sifat yang sangat baik, yaitu penuh gaya hidup dan tidak janggal menghadapi asimilasi kultur.

Sangat menarik mengamati fenomena hiruk pikuk menjelang pemilihan Gubernur Jakarta yang akan dilakukan tahun depan. Walau masih relatif lama dihitung sejak dari saat ini, namun segala geliat perebutan kekuasaan sudah tampak dengan jelasnya. Semua cara mendapatkan perhatian dikeluarkan oleh mereka yang ingin merebut kekuasaan Jakarta, suatu daerah yang jumlah penduduknya sebanyak kurang lebih 10 juta orang, setara dengan negara-negara antara lain Yunani, Bolivia, Potugal, Swedia, Arab Saudi, Israel, Dll.. Jadi tidak salah apabila dikatakan bahwa menjadi pemimpin Jakarta adalah setara dengan menjadi Presiden suatu negara, karena itu intrik politiknya pun akan relatif setara dengan pemilihan Presiden di negara-negara yang populasinya sebanding.

Pemilihan orang nomor satu di Jakarta tahun depan semakin menarik karena akan menjadi ajang pertarungan tokoh independen melawan dominasi partai politik. Di balik semua itu, terdapat pertarungan yang lebih besar guna menggapai kekuasaan nasional. Pada pemilu kemarin, terbukti  bahwa posisi Gubernur Jakarta bisa menjadi batu loncatan yang baik guna menjadi Presiden Indonesia. Dengan demikian penguasaan Jakarta menjadi pertaruhan utama bagi mereka yang ingin menempati posisi utama di negeri ini, terutama bagi partai politik.

Dalam kondisi pertarungan politik yang memanas ini, setiap kejadian biasanya memiliki makna politik tersendiri. Seorang calon gubernur akan terlihat lebih sering mengunjungi masyarakat maupun tokoh-tokohnya. Berbagai janji-janji manis akan diumbar. Serangan-serangan antar calon maupun simpatisannya akan bertebaran di mana-mana. Semua itu adalah konsekwensi dari demokrasi yang tidak perlu disesalkan selama masih dalam tahap kewajaran. Akan menjadi berbahaya apabila pertarungan politik mengarah pada isu sektarian dan mengancam semangat persatuan bangsa. Indonesia maupun Jakarta terlalu berharga untuk dihancurkan oleh fanatisme politik yang terlalu berlebihan.

Jakarta sebagai Ibukota tentu saja memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan bangsa Indonesia. Sejarah membuktikan dari kota pelabuhan inilah penjajah melebarkan sayap kekuasaannya ke seantero Nusantara. Apapun yang terjadi di Jakarta akan mempengaruhi keadaan di bagian Nusantara lainnya. Karena itu boleh dibilang Jakarta merupakan minatur Indonesia, cermin (yang walaupun tidak sempurna) dari kehidupan rakyat Indonesia. Ketika terjadi percepatan atau pelambatan pembangunan di Jakarta, begitu pula di berbagai daerah Nusantara lainnya. Ketika masih ada kemiskinan di Jakarta, selama itu pula terdapat kemiskinan di penjuru nusantara lainnya. Apabila Jawa adalah kunci Indonesia, maka Jakarta adalah kunci bagi Jawa.

Berdasarkan sejarahnya, Kemampuan Indonesia untuk mengelola keberagaman tidak bisa dilepaskan dari  Jakarta yang sejak dahulu diisi penduduk dari berbagai suku, ras, dan kebudayaan. Artikel berjudul “Djakarta dan Djaman-Djaman jang Dilaluinja” berikut akan mengupas hal tersebut. Artikel yang dimuat dalam majalah Pantjawarna no. 94, edisi 1 Juli 1956 ini mengisahkan perjalanan sejarah singkat Jakarta, yang bisa membuat kita memahami berbagai dinamika yang terjadi saat ini. Darinya juga kita bisa mengambil hikmah bahwa orang-orang yang masih mengungkit isu SARA menyangkut kehidupan di Jakarta adalah mereka yang buta akan sejarah Jakarta. Istilah pribumi juga menjadi kurang relevan digunakan untuk Jakarta, mengingat secara umum semua penduduk Jakarta berasal dari leluhur yang merupakan pendatang. Yang pasti, mereka yang mendiami Jakarta adalah orang-orang yang berhati kuat dan mampu menghadapi perubahan, karena sejarah membuktikan sungguh tidak mudah hidup di daerah ini. Berikut adalah artikel lengkapnya.

Djakarta dan Djaman-Djaman jang Dilaluinja

Pada tanggal 22 Juni tahun ini, Jakarta genap berusia 429 tahun. Jadi cukup tua usia ibukota kita ini. Selama 429 tahun itu Jakarta mengalami pasang surut, timbul dan tenggelam dan kemudian timbul kembali.

Sebelum Jakarta lahir, maka di atas kota ini sebenarnya sudah berdiri lebih dulu sebuah kota pelabuhan yang sudah cukup dikenal oleh pedagang-pedagang dari Eropa dan Tiongkok. Kota pelabuhan itu berada di dalam kekuasaan kerajaan Hindu-Jawa : Pajajaran dan bernama “Sunda Kelapa”.

Hanya pedagang-pedagang dari tanah Arab dan Asia Barat lainnyalah yang belum mengenal adanya Sunda Kelapa itu.

Tetapi, ketika pada tahun 1511 pedagang-pedagan Portugis mengangkangi Malaka dan melarang pedagang-pedagang Muslim dari tanah Arab melewati selat Malaka, bahkan kemudian pada tahun 1521 memukul kerajaan Islam, Passi (Aceh), maka terpaksalah pedagang-pedagang Muslim itu meninggalkan selat Malaka, dan terpaksa mencari jalan dan pasar melewati Selat Sunda, hingga akhirnya mereka menemukan kota Pelabuhan Sunda Kelapa yang ketika itu rakyatnya masih memeluk agama Hindu atau Buddha.

Sambil berdagang, orang-orang Muslim itu menyebarkan agama Islam di sepanjang Pantai Jawa Barat, hingga akhirnya kerajaan Pajajaran oleh karena merasa terancam kedudukannya meminta bantuan pedagang-pedagang Portugis di Malaka untuk mengusir pedagang-pedagang Muslim yang sudah mulai menyebarkan agama Islam dan mengikis pengaruh agama Hindu di daerah kekuasaan Pajajaran (Jawa Barat).

Untitled-2s
Gereja Portugis (Sion)

 

Untitled-2ss
Rumah Zaman VOC

Pada tanggal 21 Agustus 1522 dibuatlah perjanjian antara Pajajaran dan Portugis, dalam perjanjian mana dinyatakan bahwa orang-orang Portugis mendapatkan hak dari Pajajaran untuk mendirikan benteng-bentengnya di Sunda Kelapa. Pada permulaan tahun 1527, berdasarkan perjanjian diutus ekspedisi Portugis ke Sunda Kelapa untuk mendirikan benteng-benteng.

Tetapi malang bagi mereka, sebab setiba orang-orang Portugis itu di Sunda Kelapa tenyata mereka digempur oleh orang-orang Muslim yang dipimpin Faletehan yang baru saja beberapa hari berhasil merebut Sunda Kelapa dari Kerajaan Pajajaran, sahabat orang-orang Portugis.

Setelah orang Muslim di bawah pimpinan Faletehan berhasil merebut Sunda Kelapa dari kekuasaan raja Pajajaran dan menyelamatkan kota itu dari orang-orang Portugis, maka pada 22 Juni 1527, Faletehan yang kemudian lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati memaklumkan kemenangannya dan memaklumkan pula berdirinya Jayakarta atau Jakarta, yang artinya “Kemenangan yang Sempurna”. Sejak itu lenyaplah Sunda Kelapa, dan lahirlah Jakarta. Tetapi tidak hanya berhenti di situ. Sejarah kota Jakarta masih mengalami pasang surutnya dan timbul tenggelam dalam aliran sejarah.

Sembilan puluh dua tahun kemudian, VOC di bawah pimpinan Jan Peterzoon Coen melenyapkan Jakarta dari muka bumi kita, dan di atas runtuhan itu didirikanlah “Batavia”.

Lebih dari 300 tahun lamanya Belanda menegakkan Batavia di atas kota Jakarta itu. Dan selama 300 tahun lebih tidak sedikit Batavia mengalami masa-masa pahit dan getir. Tetapi yang kiranya paling pahit dirasakan oleh kaum Batavieren adalah ketika Sultan Agung dari Mataram melancarkan serangan besar-besaran atas kota ini, sehingga dalam kepungan dari darat dan laut kaum Batavieren itu mengalami kekurangan makan yang hebat. Tapi saying dengan akal memecah belahnya, Belanda berhasil mematahkan serangan tentara Mataram itu, hingga akhirnya Batavia tegak kembali.

Dalam usahanya untuk lebih memperkuat kedudukan kota Batavia itu, maka Belanda telah mendatangkan banak budah belian dari Bali dan bagian kepulauan Indonesia lainnya, tetapi kebanyakan dari Bali. Karena itu tidaklah pula mengherankan, bahwa tata bahasa orang Bali banyak meninggalkan pengaruh pada rakyat Jakarta yang sekarang ini.

Di zaman perbudakan itu, Belanda memang sengaja tidak mempergunakan orang-orang Jawa atau Sunda sebagai budak-belian, karena mereka takut kalau hal itu dapat menimbulkan pemberontakan besar-besaran.

Lebih-lebih lagi setelah dialaminya peristiwa yang ngeri, dalam peristiwa yaitu Untung Surapati yang telah mengawini anak pembesar Belanda dengan secara rahasia telah berhasil memimpin pemberontakan budak-budak belian dan kaum tawanan dan ternyata langsung atau tidak pemberontakan itu mendapat sokongan dari raja-raja di Jawa.

Di samping itu masih banyak lagi terjadi pemberontakan-pemberontakan lain, tapi umumnya pemberontakan itu tidak berhasil. Dan belum sampai rakyat dapat meruntuhkan Batavia untuk mendirikan kembali Jayakarta atau Jakarta, maka setelah 300 tahun lebih Belanda berkuasa, datanglah Fasis Jepang menggantikan kedudukan Belanda. Tetapi hanya tiga setengah tahun lamanya, maka pada tanggal 17 Agustus 1945 sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia berkumandang di udara, Jakarta yang selama 303,5 tahun tenggelam ke dasar bumi ini lahir kembali.

Untitled-3
Gedung Proklamasi

Kehidupan di Jakarta

Sejak dulu Jakarta terkenal sebagai daerah rawa-rawa. Tanahnya tidak begitu subur seperti tanah-tanah pedalaman, sedangkan pantainya berlumpur. Empat abad yang lalu tak ada orang mau percaya bahwa Jakarta ini akan bisa dijadikan kota besar seperti sekarang ini. Karena itupun orang-orang Portugis maupun Inggris tidak terlalu bernafsu untuk menguasai Jakarta.

Hanya Belandalah yang rupanya tahu bahwa tempat ini adalah sangat strategis sekali, hingga mereka berani berkorban untuk merebut kota ini pada tahun 1619 dan akhirnya berkuasa tiga abad lebih lamanya.

Pada permulaan jaman Belanda (VOC) dulu keadaan kehidupan di Jakarta adalah lebih sulit lagi. Banyak para bujangan Belanda yang menolak untuk dikirimkan ke Jakarta, sebab selain terkenal sebagai daerah yang “mahal” pada abad ke-18 itu sudah dapat dinyatakan dengan resmi sebagai daerah yang “tidak sehat”.

Menurut catatan yang dikutip dari Museum, pada masa itu untuk hidup di Jakarta suatu keluarga Belanda membutuhkan ongkos 130.512 Ringgit. Dengan ongkos hidup yang semahal ini, banyak orang Belanda sendiri yang mengeluh. Dan apabila orang yang menjajah sudah mengeluh, maka bagaimana dengan penghidupan rakyat Jakarta sendiri pada masa itu dapat kita bayangkan.

Dengan adanya kemelaratan yang merajalela, maka pada masa itu pun banyak terjadi epidemi penyakit yang membahayakan. Dan untuk mengatasi dan mengurangi kemungkinan merajalelanya penyakit-penyakit itu, maka oleh pemerintah Belanda telah diadakan perbaikan terhadap pengaliran air Ciliwung ke dalam kanal-kanal yang sekarang masih dapat disaksikan di Jakarta. Kanal-kanal itu kini masih tetap baik. Tetapi jangan lupa, waktu membangunkan kanal-kanal dan bendungan itu nenek moyang rakyat Jakarta mengalami kerja paksa berat dengan gaji 2 picis sebulan. Sedang yang lain dikenai pajak lumpur sejumlah 6,12 Ringgit setahun.

Untitled-3s
Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, yang kaya akan ornamen Tiongkok

Penduduk Jakarta

Di zaman Sunda Kelapa dan Jakarta yang pertama, kota ini hanya merupakan kota pelabuhan dan gudang penyimpanan hasil-hasil bumi. Tetapi sejak zaman Batavia, maka untuk menyaingi pedagang Eropa lainnya yang telah lama menguasai selat Malaka, maka Belanda telah menjadikan kota ini berangsur-angsur menjadi kota Dagang. Dan ini memang berhasil, sebab letak Batavia adalah demikian strategisnya, tidak terlampau jauh dari pusat  sumber-sumber kekayaan alam Indonesia dan lain lagi seperti Malaka. Lebih-lebih setelah semakin majunya usaha Inggris di Australia, maka Batavia menjadi semakin  nyata pentingnya, sebagai suatu kota dagang yang berada di tengah perempatan jalan raya perdagangan.

Sejak dahulu, sekalipun zaman Sunda Kelapa pun penghuni Jakarta umumnya terdiri dari kaum pedagang. Dan sebelum orang-orang Eropa datang, maka pedagang-pedagang Tionghoa sudah banyak yang menetap di Sunda Kelapa. Di jaman Jayakarta, pedagang-pedagang Tionghoa itupun tidak pernah menyingkir, dan tetap menyelenggarakan hubungan dagang yang sebaik-baiknya dengan pedagang Muslim yang berkuasa di Jakarta.

Hanya saja pada zaman Batavia, rupanya pedagang-pedagang Tionghoa yang jumlahnya semakin banyak itu menghadapi banyak kesukaran-kesukaran. Sehingga tidak mengherankan lagi apabila pada tahun 1740 terjadi pemberontakan bangsa Tionghoa.

Sejak pemberontakan itu, maka pemerintah Belanda melarang orang-orang Tionghoa tinggal di dalam kota, dan terutama melarang mereka emamsuki kota sesudah malam hari. Tetapi dengan adanya peraturan ini, maka orang Tionghoa semakin rapat kedudukannya dengan penduduk asli Jakarta baik orang Melayu maupun Sunda dan Bali, sehingga oleh karena kekuatiran bahwa Belanda akan menghadapi saingan yang memiliki persekutuan yang kuat, maka pada tahun 1741 segera Belanda membuka Kampung Tionghoa, hingga akhirnya menjadi Gelodok seperti yang sekarang ini nampak lebih luas lagi.

Adalah sangat menarik keadaan kaum peranakan Tionghoa. Mereka ini sesudah pada tahun 1741 boleh memasuki kota kembali tidak segera menggerombol pada orang-orang Tionghoa di kampung Tionghoa yang sudah ditunjukan dan disediakan Belanda, tetapi banyak di antara mereka yang lalu tinggal di kampung-kampung di bawah Lurah-lurah Jakarta. Lain seperti yang tinggal di kampung Tionghoa yang langsung di bawah penguasaan kapiten Tionghoa.

Banyak juga di antara kaum peranakan Tionghoa yang mengawini gadis-gadis Bali, dan banyak pula yang memasuki Islam dan kawin dengan gadis-gadis Muslim. Konon dalam membangkitkan semangat serta gerakan ke-Islaman, banyak pula kaum Peranakan Tionghoa yang menunjukan jasanya yang besar.

Barangkali tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa Masjid di Kebon Jeruk dalam mana terdapat sebuah makam yang bertuliskan huruf Arab dan Tionghoa itu adalah salah satu di antara Masjid-masjid yang telah didirikan oleh seorang Tionghoa Islam yang pada tahun 1786 dikenal dengan nama Tamin Dosol Seng.

Untitled-2
Makam Nyonya Tamien Dosol Seng di Jalan Gajah Mada

Dengan adanya percampuran pergaulan yang sangat luas oleh adanya komposisi penduduk yang bemacam-macam itu, maka terjadilah pula percampuran darah dan kultur. Tentang adanya percampuran darah itu kita sekarang dapat selidiki dari adanya jumlah kaum peranakan di Jakarta yang mencapai rekor di seluruh Indonesia, seperti pernakan Tionghoa, Belanda, Hindu, Arab, Dll.-nya. Dan tentang adanya percampuran kultur itu dengan mudah kita bisa saksikan dari keadaan bahasa rakyat Jakarta yang sekarang ini, dalam mana banyak kita dapati kata-kata yang berasal dari Jawa, Sunda, Bali, Arab, Tionghoa, dll.

Dengan adanya kebiasaan asimilasi dalam hidup mereka, maka hingga kini rakyat Jakarta mewarisi sifat-sifat yang sangat baik, yaitu penuh gaya hidup dan tidak janggal menghadapi asimilasi kultur. Karena itulah maka bahasa Jakara sebagai salah satu dari milik rakyat nampak sangat hidup pula. Tiap hari seakan-akan bahasa Jakarta berkembang menjadi lebih luas, karena bahasa rakyat ini suka menerima segala sesuatu dari luar untuk memperkaya perbendaharaan  serta kehidupan bahasanya. Tidak hanya dalam soal ini, tetapi dalam soal adat istiadatpun rakyat Jakarta sangat progresif. Kita yakin, bahwa di tahun-tahun yang akan datang keadaan akan lebih maju lagi.

Untitled-4
Pemukiman Liar di Sepanjang Jalan Kwitang